Penuhi Kebutuhan Listrik di Arab Saudi, Pemerintah Madinah Resmikan Pusat Stasiun Listrik 1.000 MW

gomuslim.co.id- Proyek pembangunan pusat stasiun konversi listrik di Madinah diresmikan oleh Otoritas Industri Properti Madinah (MODON). Berlokasi di kawasan Kota Industri Madinah Al Munawwarah. Proyek senilai 441 juta Riyal Saudi tersebut memiliki tegangan listrik berkekuatan 1.000 Mega Watt (MW).

Direktur Pemasaran dan Komunikasi Perusahaan MODON, Sami Al-Hussaini mengatakan kehadiran pusat stasiun konversi listrik ini sejalan dengan tujuan MODON yang ingin menyediakan layanan komprehensif untuk kota-kota industri. Semuanya dilakukan demi mendukung pengembangan industri di Kerajaan Arab Saudi, seperti dilansir dari publikasi Saudi Gazette, Selasa (11/04/2017).

Dengan adanya proyek tersebut, maka akan berkontribusi bagi pasokan energi listrik di kota industri Madinah. Al-Hussaini menambahkan permintaan alokasi lahan industri oleh investor meningkat di kota industri Madinah.

“Untuk itu, stasiun listrik ini akan dimanfaatkan dalam pemenuhan kebutuhan listrik pada masa kini dan masa depan Madinah,” ujarnya.

Lokasi yang strategis dekat dengan Masjid Nabawi, Pelabuhan Komersial Yanbu, dan stasiun kereta Haramain yang menghubungkan Madinah ke Makkah membuat kota tersebut menjadi pusat industri komersil. Hal ini pula yang membuat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Madinah berkembang.

Seperti diketahui, saat ini ada lebih dari 230 pabrik konstruksi di Madinah. Di kota juga terdapat bahan baku pembuatan logam dan bangunan yang melimpah. Kota industri ini mampu menarik banyak proyek khusus dan investasi ke dalamnya.

Pada era Kenabian, beberapa industri semakin aktif dampak dari hijrahnya kaum Muslimin dan meningkatnya permintaan pasar. Selain itu bertambah pula jumlah pengrajin lainnya seperti penjahit, penyemak kulit, pengrajin kulit, tukang warna pakaian, dan lain-lain.

Pada Era Khulafa' Rasyidin, perindustrian ini meningkat. Dengan tumbuhnya kesejahteraan pada kehidupan sipil di era Umawiyyah, para pengrajin semakin bertambah, mereka memberikan kontribusi untuk kemajuan pembangunan. Hal ini berlanjut sampai awal-awal era Abbasiyyah.  

Namun, mulai berubah seiring dengan penyusutan konstruksi dan gejolak stabilitas keamanan di kota Madinah dan jalan-jalan penghubungnya. Maka muncullah pabrik-pabrik produksi plastik, karpet, dan beberapa tekstil lainnya. Terdapat pula industri peralatan elektronik, bahan-bahan kimia (khususnya bahan untuk pembersih), dan juga industri makanan, terutama industri pengemasan kurma dan manisan serta penyajian makanan untuk para jama'ah haji maupun pengunjung yang mampu menyediakan ratusan ribu porsi setiap harinya pada musim haji dan kunjungan.

Pabrik-pabrik tersebut berlokasi jauh dari Masjid Nabawi dan daerah Markaziyyah (sekitar areal Masjid Nabawy) untuk menjaga kesterilan dan kebersihan lingkungan. (nat/dbs)

 

 


Back to Top