Bahas Pembentukan Bank Infrastruktur Syariah, Ini Kata Presiden IDB

gomuslim.co.id- Pembahasan rencana pembentukan Mega Islamic Bank (IMB) oleh Indonesia, Turki dan Bank Pembangunan Islam/Islamic Development Bank (IDB) kembali dilanjutkan. Hal ini mengingat pematangan rencana tersebut mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan infrastruktur di dunia.

Menurut Presiden IDB Bandar Al Hajjar, rencana yang telah dicetuskan pada April 2016 lalu ini masih dalam proses diskusi di tingkat tim satuan tugas. Pihaknya juga telah membentuk tim kajian yang secara khusus mempersiapkan pembentukan bank infrastruktur syariah.

“Tim telah melakukan pertemuan perdana pada Maret 2017 lalu yang secara khusus membahas perkembangan atas rencana pembentukan bank infrastruktur syariah. Sampai saat ini studi tentang gagasan Mega Islamic Bank masih berjalan. Setelah bulan lalu mengadakan pertemuan, sebentar lagi akan digelar pertemuan serupa guna melanjutkan diskusi," ujarnya, Rabu (12/04/2017).

Ia menilai pendirian Mega Islamic Bank akan memberikan manfaat besar bagi negara anggotanya. Bank ini nantinya akan menyediakan pembiayaan infrastruktur khususnya bagi negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

"Mega Islamic Bank penting sekali untuk memberi solusi manajemen likuiditas di pasar, memberi kebijakan instrumen antar bank, dan menyiapkan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur buat negara-negara anggota OKI sesuai prinsip syariah," kata Bandar.

IDB mencatat, kebutuhan pembiayaan infrastruktur negara-negara di dunia mencapai 3,3 triliun dolar AS pada tahun 2016. Sementara anggaran yang tersedia hingga saat ini baru menyentuh 2,5 triliun dolar AS. Artinya, terdapat total kekurangan pembiayaan infrastruktur secara global sebesar 800 miliar dolar AS.

"Sedangkan kekurangan pembiayaan infrastruktur di negara-negara anggota IDB mencapai 200 sampai 220 miliar dolar AS per tahun," ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan bahwa Menteri Keuangan (Menkeu) sebelumnya yakni Bambang Brodjonegoro, Presiden IDB dan Wakil Perdana Menteri merangkap Menkeu Turki membahas proses pendirian MIB tersebut. "Dalam pertemuan three partite ini disepakati untuk dilakukan koordinasi lebih erat di antara negara-negara dan IDB yang akan menjadi pendiri MIB," kata dia.

Indonesia, Turki, dan IDB kemudian diharuskan duduk bersama untuk membahas tentang struktur kelembagaan dan skema pendanaan dari Mega Islamic Bank. "Saat ini belum ada pembicaraan investasi MIB bersama Turki dan IDB. Nanti kita bentuk tim kecil senior official dulu untuk membicarakan struktur governance-nya, board of director-nya mau bagaimana, kan ada gaya AIIB, Bank Dunia, ADB dan lainnya," ujarnya.

Dalam forum investasi itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan peran PT. Sarana Multi Infrastruktur sangat penting untuk mendukung skema investasi dana abadi (sovereign wealth fund/SWF) bagi pembiayaan infrastruktur di Indonesia. "SMI ialah perusahaan yang sangat tepat untuk menjadi jembatan bagi banyak pooling of funds yang dikelola SWF dengan proyek Indonesia," kata Sri Mulyani.

Ia menjelaskan PT SMI selama ini memiliki fungsi khusus bagi penyiapan pembiayaan proyek infrastruktur oleh sektor swasta di Indonesia sehingga tidak akan kesulitan menjalankan peran sebagai mediator dana dari SWF. “Peranan SMI menjadi penting karena dalam skema PPP ikut mendesain proyek infrastruktur dan menjadi mediator serta fasilitator dengan BUMN,” tandasnya. (njs/dbs)

 


Back to Top