Pernah Alami Masa Sulit, Begini Perkembangan Islam di Mozambik

gomuslim.co.id- Islam merupakan agama dengan populasi terbesar kedua di dunia. Perkembangan dakwah Islam di beberapa Negara kian pesat setiap tahunnya. Meski demikian, aktivitas dakwah tidak selalu menemui jalan mulus. Selalu ada hambatan dan masa-masa sulit di setiap perjalanannya. Hal ini pun terjadi di Negara Mozambik.

Menurut sensus National Institute of Statistics, populasi muslim di Negara ini mencapai 17,9 persen dari total populasi yang ada. Sebagian besar muslim di negara yang berada di Afrika bagian selatan ini menganut Mazhab Suni Syafii.

Muslim Mozambik terutama terdiri dari masyarakat adat Mozambik, keturunan warga Asia Selatan (India dan Pakistan), dan sebagian kecil dari Afrika Utara dan imigran Timur Tengah.

“Memang mayoritas penduduk Mozambik memeluk Kristen. Jumlah keseluruhannya mencapai 56,1 persen. Sedangkan, 18,7 persen penduduk negara yang berbatasan dengan Afrika Selatan, Swaziland, Tanzania, Malawi, Zambia, dan Zimbabwe menyatakan tak beragama. Sementara, sisanya 7,3 persen menganut beragam keyakinan,” tulis laporan dari NIS Mozambik.

Akan tetapi, konstitusi Mozambik mengatur bahwa semua warga negara memiliki kebebasan mempraktikkan atau tidak menjalankan agama dan memberikan hak denominasi agama untuk mengejar tujuan-tujuan agama secara bebas.

Pemerintah di semua tingkatan menghargai hak-hak ini dan berusaha melindunginya secara penuh serta tidak menoleransi pelecehan, baik oleh pelaku, pihak pemerintah maupun sipil. Pemerintah tidak mendukung agama tertentu, juga tidak ada agama dominan di negara.

Undang-undang mengharuskan lembaga keagamaan dan organisasi misionaris untuk mendaftar kepada Departemen Kehakiman, mengungkapkan sumber utama pendanaan mereka, dan memberikan nama-nama anggota minimal  500 orang. Tidak ada manfaat atau hak istimewa tertentu terkait dengan proses pendaftaran ini.

Terdapat tiga organisasi Islam utama di Mozambik, yaitu Kongres Islam, Dewan Islam, dan Komunitas Muslim Asian. Organisasi keagamaan nonpemerintah didanai oleh Kuwait dan Sudan. Sebuah LSM Badan Muslim Afrika fokus pada kegiatan kemanusiaan, seperti yang dilakukan Lembaga Pengembangan Muslim Aga Khan.

Konstitusi memberikan hak kepada kelompok agama untuk memperoleh aset sendiri. Hukum di negara dengan ibu kota Maputo yang terletak di pengujung bagian selatan ini mengizikan mereka memiliki dan mengoperasikan sekolah.

Peningkatan populasi imigran Asia Selatan di negara yang merupakan anggota Komunitas Negara-Negara Berbahasa Portugis dan Persemakmuran ini, memiliki hubungan yang kuat dengan keberadaan sekolah Islam di negara tersebut.

Pada 2003 dan 2004, sekolah dasar dan menengah Islam didirikan di sejumlah kota, antara lain Matola, Xai-Xai, Nampula, Nacala, dan Pemba. Pembangunan sekolah ini banyak dilakukan berkat pembiayaan dari Badan Muslim Afrika atau dari tokoh Muslim lokal terkemuka, yang kebanyakan merupakan keturunan Asia Selatan. Sebuah organisasi Sudan juga telah menyediakan dana untuk sekolah-sekolah di Xai-Xai dan Nampula.

Muslim Mozambik Pernah Berjaya dengan Kerajaan. Keterikatan Mozambik dengan Islam memiliki sejarah panjang. Awalnya Islam masuk ke wilayah ini melalui para pedagang Muslim, sebagian besar berasal dari Yaman. Kedatangan pedagang Arab di Mozambik dimulai pada abad ke-4 Hijriah ketika umat Islam mendirikan kerajaan  kecil di pantai Afrika Timur.

Link antara Islam dan klan utama di Mozambik telah ada sejak abad ke-8 ketika Islam membuat terobosan ke pantai utara Mozambik dan menjadi terkait dengan penguasa elite Shirazi.

Sejak berdirinya Kesultanan Kilwa di abad ke-10 oleh Ali bin al-Hassan Shirazi, Islam telah menjadi agama utama di wilayah ini. Mantan kota pelabuhan, Sofala, yang menjadi terkenal karena perdagangan gading, kayu, budak, emas, dan besi dengan Timur Tengah dan India, adalah salah satu pusat perdagangan paling penting di pantai Mozambik .

Selama periode berikutnya dari Dinasti Oman Al Bu Said, pedagang Muslim memperluas zona perdagangan mereka hingga ke selatan pantai Mozambik. Pada masa ini diyakini bahwa hampir semua penduduk kota adalah Muslim sebelum kedatangan Portugis pada abad ke-16. (njs/dbs)

 


Back to Top