Tingkatkan Pembiayaan KPR, BNI Syariah Siap Terima Suntikan Modal dari Induk

gomuslim.co.id- Tingginya minat masyarakat terhadap program Kredit Perumahan Rakyat (KPR) membuat sejumlah bank syariah gencar meningkatkan pembiayaan. Salah satu langkah yang diambil guna menumbuhkan pembiayaan perumahan ini adalah dengan mengelontorkan dana segar.

Seperti yang dilakukan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) yang siap menyuntikan dana sebesar Rp 500 miliar untuk anak usaha, BNI Syariah. Menurut Direktur Keuangan BNI, Rico Rizal Budidarmo, pihaknya siap memberikan modal untuk program perumahan syariah pada kuartal II tahun ini

"Kami siapkan Rp 2,5 triliun, untuk BNI Syariah kami perkirakan sebesar Rp 500 miliar sampai Rp 1 triiliun, untuk ekspansi pembiayaan sektor konsumen khususnya pembiayaan perumahan syariah," ujarnya beberapa waktu lalu.

Direktur Bisnis Konsumer BNI Syariah, Dhias Widiyanti mengatakan di kuartal I-2017 BNI Syariah mencatat penyaluran pembiayaan konsumtif meningkat sebesar 35% secara tahunan atau year on year (yoy). Adapun khusus untuk pertumbuhan griya (KPR) BNI syariah, per kuartal I-2017 secara nett tumbuh sebanyak 31,53% jika dibandingkan dengan capaian akhir kuartal-I tahun sebelumnya menjadi Rp 389,23 miliar.

"Kami menarget sampai dengan Desember 2017, KPR BNI syariah tumbuh mencapai Rp 1,6 triliun," kata Dhias, Senin (17/04/2017).

Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman menjelaskan suntikan modal utamanya bertujuan untuk meningkatkan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) untuk menopang ekspansi bisnis jangka menengah dan panjang.

Adapun modal perseroan saat ini sekitar Rp 2,5 triliun dengan CAR sebesar 14,5 persen, sedangkan CAR minimum sesuai regulasi sekitar 10 persen. "Dengan tambahan modal Rp 1 triliun, CAR diharapkan akan naik menjadi di atas 18 persen," ungkapnya.

Sementara itu, ekspansi pembiayaan diperkirakan akan menurunkan CAR sekitar 0,75 sampai dengan 1 persen per tahun. Suntikan modal, kata Firman, juga akan mempercepat BNI Syariah masuk ke kategori bank umum kegiatan usaha atau BUKU 3, yakni kategori bank dengan modal minimum Rp 5 triliun.

Selain itu, memungkinkan bisnis yang lebih luas misalnya membuka outlet di luar negeri. "Dari sisi kebutuhan dana untuk ekspansi bisnis, alhamdulillh BNI Syariah mendapat sumber pendanaan yang memadai dari DPK nasabah," kata Firman.

Adapun rencana untuk initial public offering (IPO) pada tahun depan, masih menjadi opsi penting yang sedang dikaji pemegang saham. Diharapkan dengan menjadi perusahaan terbuka (Tbk) dapat meningkatkan permodalan BNI Syariah dan mendorong bisnis lebih ekspansif. "Apapun keputusan BNI induk sebagai pemegang saham maka kami siap menjalankannya," tegas Firman.

Pemain lainnya, PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dalam tiga bulan pertama tahun ini hanya mampu mencatatkan pertumbuhan KPR sebesar 0,8% secara tahunan alias stagnan. Menurut Senior Executive Vice President Retail Banking BSM, Niken Andonowarih, pada awal tahun bisnis konsumer khususnya perumahan lesu salah satu penyebabnya karena tagihan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang belum keluar sebagai dasar transaksi. Selain itu, pada kuartal- I 2017 jumlah pemasaran KPR BSM dinilai kurang agresif.

Kendati demikian, tahun ini anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tersebut optimistis bisnis KPR dapat tumbuh di angka 12% hingga 13%. Untuk mencapai target tersebut, BSM telah bekerja sama dengan anak perusahaan Ciputra Group yakni PT Ciputra Indah dan PT Mitrakusuma Erasemesta.

Sebagai tambahan informasi saja, per Februari 2017, BSM telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 53,55 triliun, tumbuh 6,82% dari periode yang sama tahun lalu dengan total penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 70,57 triliun. Ini meningkat 11,37% dari Februari 2016. Adapun untuk pembiayaan perumahan, nilai outstanding per Februari 2017 sebesar Rp 9,26 triliun dengan jumlah nasabah mencapai 44.136 nasabah. (njs/dbs)

 


Back to Top