Masjid Jogokariyan Yogyakarta Terima Kunjungan Majelis Agama Islam Thailand

gomuslim.co.id- Majelis Agama Islam Thailand melakukan kunjungan ke Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Senin (17/04/2017). Rombongan yang dipimpin Abdulrohman Bulayama dan Sekretaris  H Ibrahim Wanawan (seniman muda Tofet Buluyama) ini disambut Dewan Takmir Masjid, jajaran Kanwil Depag DIY, Ketua MUI DIY KH Drs Thoha Abdurrachman dan jajarannya.

Dalam sambutannya, Abdulrohman Buluyama mengatakan pihaknya mendapat banyak masukan tentang Islam di Yogyakarta. “Di Provinsi Narathivat South Thailand ada 663 masjid belum mandiri, bisa belajar manajemen di Masjid Jogokariyan. Kami juga banyak mendapat masukan tentang kehidupan beragama di Yogya," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan KH Muhammad Jazir ASP menjelaskan Masjid Jogokariyan bisa memberikan layanan kesehatan, pendidikan, kesenian, sosial, ibadah olahraga dan yang lainnya. Hal ini didorong dengan semangat mendekatkan masjid pada masyarakat, gerakan mensholatkan orang hidup didukung pemetaan data warga Muslim di Jogokariyan.

“Kami selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin sharing bersama. Bahkan tamu non muslim pun kita terima dengan baik di sini," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Masjid Jogokariyan telah menjelma sebagai destinasi wisata di Yogya, setiap hari tamu dari berbagai daerah maupun luar negeri selalu ada tamu bahkan tamu di akhir pekan Jumat sampai Ahad bisa mencapai 3.000 orang. 

Masjid Jogokariyan sendiri diresmikan 1967 masjid bangunan lama semula 9 x 15 meter, dulu luasnya hanya 600 m persegi. Kemudian Juni 2003 dibongkar berdiri bangunan baru pada 2004 masjid diperluas menjadi 19 x 26 dan jadi tiga lantai.

Perluasan tanah masjid 1478 meter persegi, kemudian ditambah bangunan Islamic Center 3 lantai, habis 2.5 m selesai 2009, dengan pengembangan dan manajemen yang baik Masjid Jogokariyan mandiri dan menjadi pusat kegiatan umat Islam Jogokariyan.

Pada Desember 2016 lalu, Kementerian Agama RI menetapkan Masjid Jogokariyan sebagai Masjid Percontohan Nasional Masjid Besar Terbaik di Bidang Manajemen. Masjid ini terus menjadi acuan studi banding maupun wisata religi dari berbagai daerah maupun luar negeri.

Sebelumnya, Tim manajemen Masjid Jogokariyan, Suharyanto, mengatakan, masjid ini mampu mandiri secara ekonomi. Beberapa usaha dibukanya, seperti penginapan dan menyewakan ruang pertemuan. Selain itu, di masjid ini dibangun Islamic Center yang digunakan sebagai tempat segala aktivitas pelayanan kepada jamaah.

Menurut Suharyanto, penginapan yang dibangun dengan 11 kamar mampu mengumpulkan laba setiap tahunnya sebesar Rp 30-35 juta. Harga kamar dipatok Rp 150 ribu untuk regular dan Rp 250 ribu untuk kamar keluarga. "Kita kan selama ini banyak kunjungan dari luar daerah sekalian studi banding, tamunya bisa sekalian menginap," ujar Suharyanto.

Pendapatan dari penyewaan penginapan tersebut dikelola untuk peningkatan sarana dan prasarana fisik. Penginapan yang baru digunakan pada tahun 2012 itu didirikan atas dana gabungan dari masyarakat dan usaha masjid sebelumnya. Kendati demikian, masyarakat tidak dipaksa untuk memberikan sumbangan. Sumbangan dari jamaah bersifat sukarela.

Penginapan tersebut, Suharyanto mengatakan, dikelola oleh bagian rumah tangga masjid. Pihak masjid juga akan menghubungkan kepada masyarakat apabila ada tamu yang ingin memesan suvenir seperti kaos bertuliskan masjid Jogokariyan. Suharyanto menegaskan, sinergi antara masjid dan masyarakat terjalin dengan semakin berkembangnya masjid yang mulai dibangun pada tahun 1966 dan digunakan di tahun 1967 tersebut.

Suharyanto bersyukur masjid Jogokariyan mampu berkontribusi kepada masyarakat dalam meningkatkan pendapatan meskipun tidak besar. Misalnya, ketika ada studi banding yang sekaligus menginap di penginapan milik masjid mereka bisa membeli katering ke warga setempat.

Selain itu, masjid Jogokariyan juga mempunyai program pemberian modal usaha kepada warga kategori fakir miskin sebesar Rp 1 sampai 2 juta rupiah. "Pengembalian terserah gak dikembalikan gak apa-apa dengan syarat satu masuk fakir atau miskin karena diambil dana zakat dana zakat untuk pemberdayaan," imbuhnya. (njs/dbs)


Back to Top