Pacu Sektor Produktif, BNI Syariah Catatkan Laba Rp 78 Miliar pada Triwulan I 2017

gomuslim.co.id- Industri perbankan syariah terus memperlihatkan laju positif beberapa tahun belakangan ini. Salah satu bank syariah yang cukup produktif dalam memacu pertumbuhan adalah BNI Syariah. Terbaru, anak usaha PT BNI Tbk itu mencatatkan peningkatan laba pada triwulan I tahun 2017 sebesar Rp. 78 miliar.

Laba tersebut naik 3,3 persen dibandingkan pada triwulan I tahun 2016 yang sebesar Rp 75 miliar. Menurut Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo, pertumbuhan laba tersebut disokong dari bagi hasil pembiayaan yang disalurkan perusahaan. Pembiayaan BNI Syariah pada triwulan I tahun 2017 tumbuh 17,8 persen secara year on year (y-o-y) dari Rp 18,04 triliun menjadi Rp 21,26 triliun.

"Ini kinerja yang sangat baik. Kenaikan laba tersebut juga didukung dari kualitas pembiayaan yang terjaga dan rasio dana murah yang lebih baik," ujar Abdullah, Kamis (20/4/2017).

Ia menjelaskan, dari total pembiayaan tersebut, porsi terbesar ke pembiayaan konsumtif sebesar 56,1 persen. Kemudian disusul oleh pembiayaan kepada Usaha kecil menengah (UKM) 21,07 persen dan pembiayaan komersial sebesar 17,73 persen.

Sedangkan, pembiayaan mikro di luar konsumtif 3,6 persen, dan pembiayaan kartu Hasanah Card 1,59 persen. “Pembiayaan konsumtif sebagian besar pada produk KPR Syariah yakni Griya iB Hasanan sebesar 85 persen,” kata Abdullah.

Abdullah menambahkan, aset BNI Syariah pada triwulan I tahun 2017 juga tumbuh 21 persen dari periode yang sama tahun lalu, dari Rp 24,86 triliun menjadi 29,86 triliun. Pertumbuhan ini didukung oleh Dana Pihak Ketiga (DPK) yang juga tumbuh 23,4 persen (y-o-y) menjadi Rp 25,81 triliun.

"Kalau kita lihat kekuatan aset didorong dari DPK. Namun DPK kalau kita buka luas akan bertambah banyak, tetapi kita selektif. Kami Optimis dengan kinerja Aset kita bisa tembus target Rp 40 triliun," ujarnya.

Di sisi lain, BNI Syariah juga mulai meningkatkan porsi pembiayaan ke sektor produktif dan diperkirakan akan mencapai pangsa hingga 60 persen pada tahun 2020 hingga 2021 mendatang. Upaya tersebut sejalan dengan imbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang meminta bank-bank syariah lebih inovatif menyalurkan pembiayaan terutama ke sektor produktif.

Direktur Bisnis BNI Syariah, Dhias Widhiyati mengatakan manajemen membuat roadmap (peta) bisnis untuk mencapai target tersebut. Salah satunya adalah menumbuhkan pembiayaan ke perusahaan-perusahaan BUMN besar seperti Waskita Karya, Perum Pegadaian, Hutama Karya dan PLN.

Selain itu meningkatkan pembiayaan ke usaha kecil dan menengah (UKM) dalam bentuk supply chain financing atau menggarap perusahaan supplier, distributor dari nasabah inti induk perusahaannya yakni BNI. “Model pembiayaan seperti ini lebih terukur risikonya karena debitornya perusahaan BUMN yang menggarap proyek-proyek infrastruktur pemerintah. Apalagi, risikonya sudah diassesment oleh BNI sebagai holding,” kata Dhias.

Sekadar Informasi, BNI Syariah merupakan anak usaha dari PT BNI (Persero) Tbk yang telah terbentuk sejak 2010. Saat ini, BNI Syariah telah memiliki 327 outlet di seluruh Indonesia. (njs/bnisy/dbs)

 

 


Back to Top