Pengembangan Aplikasi Wisata Halal Indonesia Masih Terkendala Data

gomuslim.co.id- Wisata halal Indonesia kini mulai menjadi sorotan dunia. Meski sudah menyabet gelar penghargaan pada akhir tahun lalu, wisata halal Tanah Air masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Salah satunya adalah pengembangan aplikasi digital wisata halal Indonesia yang terkendala ketersediaan data. 

Menurut Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Kementerian Pariwisata, Riyanto Sofyan, pihaknya kini sedang membangun aplikasi digital yang berisi soal informasi akomodasi wisata halal yang tersedia di Indonesia. Aplikasi tersebut saat ini masih belum siap karena terkendala beberapa hal.

“Masih dalam pengembangan, sangat konvensional sekarang. Nanti, aplikasi itu akan berisi data-data mengenai akomodasi dengan sertifikat halal atau muslim friendly, ada letak masjid, penunjuk kiblat, dan waktu sholat bagi wisatawan muslim yang berwisata di Indonesia,” ujar Riyanto baru-baru ini.

Ia menjelaskan hingga saat ini, pihaknya masih terkendala mengenai data-data akomodasi wisata halal di Indonesia, baik yang bersertifikasi halal maupun muslim friendly. Riyanto memperkirakan jumlah hotel yang mengantongi sertifikat halal sangat terbatas. Sebaliknya, hotel yang sudah mengarah ke muslim friendly jumlahnya mencapai 300 unit yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sementara itu, Chairman Indonesia Islamic Travel Communication Forum (IITCF), Priyadi Abadi mengungkapkan pasar wisata halal di Indonesia memang belum dipandang potensial di kalangan pelaku wisata. 

"Para pelaku wisata travel muslim misalnya lebih suka menggarap pasar haji dan umroh. Tingginya daya beli masyarakat domestik dan potensi outbound yang tinggi menyebabkan mereka terjebak di zona nyaman," tuturnya.

Hambatan lainnya yang seringkali dialami pelaku agen travel muslim adalah minimnya jumlah hotel bersertifikasi halal, terutama hotel bintang empat dan lima. "Jangankan untuk wisman, paket tur yang kita rancang untuk wisatawan nusantara saja seringkali terbentur dengan minimnya fasilitas muslim friendly di Indonesia," kata Priyadi.

Selain itu, Priyadi juga menuturkan bahwa Negara-negara lain sudah mulai berlomba untuk mempromosikan pariwisata halal. Seperti Thailand yang sudah memiliki hotel halal, Malaysia yang giat memberikan pelatihan kuliner halal ke negara lainnya, dan inovasi Jepang dalam memberikan makanan halal di tempat pariwisata yang mereka miliki.

“Saat ini kita perlu membawa para turis ke Indonesia dan melihat betapa indahnya pariwisata halal yang dimiliki Indonesia,” tutup Priyadi.

Sebagai informasi, pasar pariwisata halal memang cukup menggiurkan karena berdasarkan laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2016, wisatawan muslim diprediksi mencapai 117 orang pada 2015. Jumlah itu diproyeksikan makin melonjak menjadi 168 juta orang pada 2020 dengan total belanja wisata mencapai US$200 miliar.

Saat ini, Kemenpar mencatat setidaknya ada 10 negara yang menjadi target utama wisata halal di Indonesia antara lain Timur Tengah, Malaysia, Russia, Jerman, Inggris, Singapura, Prancis, China, dan India.

Pemerintah sendiri menargetkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) muslim mencapai 3,1 juta atau 20,6% dari total target wisman 15 juta pada tahun ini. Secara umum, 3 lokasi sudah ditunjuk menjadi proyek percontohan wisata halal di Indonesia yakni Padang (Sumatra Barat), Aceh (Daerah Istimewa Aceh), dan Lombok (NTB). (njs/kemenpar/dbs)

 


Back to Top