Menag : Mahasantri Ma’had Aly Harus Aktif Menulis

gomuslim.co.id- Menulis merupakan sebuah aktivitas wajib dalam dunia pendidikan. Hal ini juga berlaku bagi kalangan Mahasantri yang belajar di Ma’had Aly. Saat ini, diskursus di ruang publik lebih banyak diisi tulisan orang-orang yang sebenarnya belum mendalami agama. Maka dari itu peran mahasantri dalam menulis sangat diperlukan untuk mengisi ruang ini.

Demikian disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat berdiskusi dengan para pengasuh dan pengolahan Ma'had Aly Babakan Ciwaringin, Kamis (27/04/2017). Pada kesempatan tersebut, Menag meminta para mahasantri untuk lebih aktif menulis.

"Mahasiswa di sini harus dibiasakan menulis. Orang yang mendalami Ushul Fiqh misalnya, karena pemikirannya kurang terpublikasi, maka ruang publik banyak dikuasai mereka yang dari sisi keilmuan kurang. Kalau sejak tahun pertama dan kedua sudah dibiasakan menulis, maka mereka akan terbiasa," ujar Menag.

Lebih lanjut, Menag menjelaskan bahwa saat ini Ma'had Aly telah mendapatkan rekognisi dari Pemerintah. Kementerian Agama telah menerbitkan Peraturan Menteri Agama Nomor 71/2015 tentang Mahad Aly. "Ma'had Aly agar menjadi tempat alumni pesantren yang ingin takhassus mendalami keagamaan. Lulusannya nanti setingkat sarjana," terangnya.

Akan hal ini, Pengasuh Pesantren Babakan KH Zamzami Amin menyampaikan terima kasih kepada Menag. Menurutnya, hampir delapan tahun status Ma'had Aly terombang ambing, dan sekarang sudah jelas sehingga para santri bisa lebih fokus belajar.

Pada kesempatan ini, Menag juga mendapat kesempatan untuk menulis awal ayat ke 49 surat Al Baqarah. Hal ini seiring dengan rencana Pondok Pesantren Babakan menulis Mushaf Al Qur'an yang akan diberi nama Mushaf Babakan.

Usai menulis, Menag diperlihatkan lembar-lembar mushaf yang sudah selesai proses penulisannya oleh KH Lukman Hakim. Menurutnya, setiap halaman mushaf dihiasi dengan iluminasi yang diambil dari hasil riset beberapa situs di Cirebon.

Salah satunya motif jambu yang dinisbatkan pada Pondok Pesantren Kebon Jambu. Selain itu, iluminasi juga dilengkapi dengan tulisan kaligrafi nama-nama pesantren di Babakan. Hiasan ini bersifat konsisten dalam setiap juznya.

"Penjelasan tentang iluminasi ini penting ditulis agar publik tahu. Ini juga sambil mempublikasikan khazanah tradisi Cirebon," saran Menag.

KH Lukman menambahkan, Mushaf Babakan ditulis sejak tahun 2012. Seluruh lembar mushaf ditulis dengan tulisan tangan ahli kaligrafi yang juga santri Babakan, yaitu Faraid.

Ditemui di tempat yang sama, Faraid mengaku tidak ada target khusus untuk menyelesaikan seluruh proses penulisan Mushaf Babakan. Tapi dia berharap pada tahun 2018, sudah bisa dirilis.

Santri yang sudah belajar sekitar 7 tahun di Babakan ini pernah menjadi juara nasional kaligrafi pada event MTQ Nasional di Batam tahun 2014. "Saat ini sudah ada 8 juz yang sudah finis," tambahnya.

Dalam kujungannya yang didampingi Sesditjen Pendis Isom Yusqi, Menag juga memberikan bantuan Ruang Kelas Baru (RKB) kepada Mahad Aly Alhikamus Salafiyah Babakan Ciwaringin, sebesar Rp300 juta. (njs/kemenag/dbs/foto:  ilustrasi)

 


Back to Top