Bentuk Solidaritas untuk Warga Muslim, Presiden Austria Imbau Wanita Kenakan Hijab

gomuslim.co.id- Maraknya fenomena Islamophobia di benua Eropa membuat sejumlah pejabat tinggi Negara mengeluarkan ragam kebijakan. Meski beberapa respon negatif, namun tidak sedikit pula yang justru mendukung secara positif. Seperti yang dilakukan Presiden Austria Alexander Van Der Bellen baru-baru ini.

Dalam pernyataannya, Presiden Alexander Van Der Bellen mengimbau perempuan Austria nonmuslim untuk mengenakan jilbab sebagai solidaritas dengan saudari muslimah. Hal tersebut diungkapkan Van der Bellen saat bertemu sejumlah siswa pada Senin lalu. Dia meyakini bahwa hak setiap wanita untuk mengenakan apapun yang dia suka.

Keprihatian terhadap meluasnya Islamofobia di Austria menjadi alasannya. Salah satunya muncul dalam kebijakan pemerintah Austria untuk melarang burqa, niqab dan cadar yang menutup seluruh wajah perempuan di tempat-tempat publik pada Januari lalu.

“Jika masalah ini terus berlanjut, suatu saat kita perlu meminta seluruh perempuan untuk mengenakan jilbab, sebagai solidaritas bagi mereka yang mengenakannya,” kata Van der Bellen seperti dilansir dari publikasi Daily Mail, Jumat (28/04/2017).

Pernyataan Van der Bellen seperti dilaporkan Russia Today memicu perdebatan di dunia maya. Sejumlah netizen menolak saran Bellen. Komentar presiden yang akan minta semua wanita berjilbab sebagai solidaritas kepada umat Muslim itu disalahpahami publik sebagai upaya penerapan syariah Islam.

Namun, kritikan itu dijawab sang presiden dengan mengunggah sebuah posting di Facebook pada hari Rabu. Dia menekankan bahwa wanita yang memakai jilbab di negaranya sering mengalami “permusuhan publik”.

Bulan lalu, beberapa pejabat pemerintah dengan tajam mengkritik sebuah rekomendasi dari Komunitas Agama Islam di Austria (IGGO) bahwa wanita Muslim sebaiknya mulai mengenakan jilbab sejak awal pubertas. Seorang sekretaris negara negara bagian di Austria, Muna Duzdar, menolak rekomendasi itu.

Komentar Van der Bellen muncul kurang dari tiga bulan setelah pemerintah Austria mengumumkan rencana untuk melarang pemakaian jilbab yang menutup muka secara penuh di tempat publik. Rencana itu memicu demonstrasi di Ibu Kota Wina.

Sekadar informasi, sejak tahun 1912, Austria merupakan negara Eropa pertama yang mengakui agama Islam. Di negara ini Islam agama ketiga terbesar dengan presentase 4,2 persen setelah Katolik dan Protestan.

Pada 2012, Austria memperingati satu abad pengakuan tersebut. Baik itu lewat lembaga resmi Islamische Glaubensgemeinschaft in Österreich (Komunitas Islam resmi di Austria) maupun Muslimische Jugend Österreich (Perkumpulan Anak-anak Muda Muslim di Austria).

Geliat dan semangat menjalankan ajaran Islam cukup tinggi. Terlihat dari kegiatan keagamaan dan berdirinya masjid-masjid untuk tempat ibadah warga Muslim dari beragam etnis. Di ibu kota Austria, Wina, terdapat sekitar sembilan masjid. Di kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ada masjin besar meski namanya tidak menggunakan kata masjid, tapi fungsinya full masjid.

Bahkan, warga Indonesia punya masjid, bentuknya seperti apartemen, tak ada kubah dan menaranya tetapi fungsi sepenuhnya seperti Masjid. WNI di Wina sedang berusaha membeli tanah yang akan dibangun Masjid Indonesia.

Masjid dan pusat kajian Islam terbesar di Wina adalah Islamic Center yang bangunan sepenuhnya berbentuk masjid, memiliki halaman luas dan digunakan untuk salat Jumat. Banyak warga Muslim di Wina, termasuk WNI, menjalankan salat Jumat di masjid yang memiliki menara setinggi 32 meter, kubah 16 meter. Arsiteknya Ing R. Lugn. (njs/dailymail/dbs)


Back to Top