Sejumlah Negara Muslim Belajar Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dari Indonesia

gomuslim.co.id- Indonesia menjadi panutan (role model) pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak bagi Negara-negara muslim di dunia. Hal ini tidak terlepas dari peran pemerintah yang terus bekerja keras menjadikan perlindungan perempuan dan perlindungan anak sebagai isu prioritas di Tanah Air.

Demikian disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise dalam acara Specialized Summit of the Women's Affairs' Ministers from Islamic Countries, di Mashhad, Iran pada 27 April 2017 lalu. Konferensi ini diikuti delegasi dari Indonesia, Azerbaijan, Afghanistan, Turki, Suriah, Mauritania, dan Irak.

Pada kesempatan tersebut, Yohana menuturkan sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, kaum perempuan di Indonesia dipandang sudah cukup berkembang. Selain karena perempuan pernah menjadi Presiden, saat ini ada sembilan menteri perempuan dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK.

Jumlah ini menurutnya mungkin yang terbanyak di dunia. Di negara-negara Muslim lain, lanjut dia, proporsi menteri perempuan baru berkisar dua, tiga, atau empat menteri. "Secara umum di seluruh negara di dunia menghadapi isu perempuan dan anak yang relatif sama, termasuk negara-negara konflik dimana perempuan dan anak-anak menjadi korban utama," ujar Yohana, Selasa (02/05/2017).

Menurut Yohana, posisi perempuan dan anak lebih banyak sebagai korban. Sebagian besar  permasalahan ditimbulkan oleh laki-laki. Ia juga mengungkapkan, seluruh negara dapat saling bekerja sama dalam mengembangkan pemberdayaan dan perlindungan terhadap hak anak dan perempuan.

"Pada pertemuan tersebut kami membahas potensi kerja sama kedua negara di bidang pemberdayaan perempuan dan ketahanan keluarga," kata Yohana.

Yohana mengatakan masing-masing negara akan melakukan tinjauan terlebih dahulu sebelum melakukan kerja sama, Indonesia akan melihat program pemberdayaan seperti apa yang cocok di terapkan di Iran, begitu juga sebaliknya.

"Kita harus melakukan kajian dahulu, situasi mereka seperti apa. Mereka juga melakukan hal yang sama, melihat program-program mana yang cocok dengan mereka," kata Yohana.  Perempuan Indonesia menurutnya sudah dianggap cukup maju dan mempunyai toleransi tinggi. Mereka sudah mulai masuk ke negara-negara konflik, sebagai peace people.

Dalam dua periode terakhir, Yohana menyatakan, terdapat tiga program prioritas yang dikembangkan Kemen PPPA. "Program prioritas kita tetap 3 Ends, turunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan manusia, dan kita gerakkan kaum perempuan yang rentan, korban kekerasan, perempuan di desa-desa," kata Yohana.

Yohana menambahkan fokus yang ketiga ini bertujuan untuk mengakhiri kesenjangan akses bagi perempuan terhadap sumber daya ekonomi. Ketiganya melibatkan berbagai sektor, tidak hanya tingkat nasiona tetapi juga kerja sama antar negara. Ia menegaskan, isu perempuan dan anak sudah menjadi prioritas dan komitmen internasional.

Sementara itu, Wakil Presiden Iran Urusan Perempuan dan Keluarga, YM Shahindokht Molaverdi mengatakan peran keluarga dan perempuan harus menjadi perhatian utama di negara-negara Islam.

Secara umum, kata dia, tantangan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang masih terkait cara mengimplementasikan sekaligus mensinergikan program-program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak agar tercapai sumber daya manusia yang unggul. Hal ini berkorelasi dengan situasi dan kebijakan nasional masing-masing negara.

Molaverdi menyampaikan bahwa Iran telah memiliki kebijakan yang mengatur dunia kerja dan tanggung jawab domestik perempuan sebagai ibu. Di antaranya, melalui jumlah cuti hamil menjadi enam bulan dan pengurangan jam kerja bagi perempuan dalam situasi khusus. (njs/dbs)

 


Back to Top