Ini Kata DSN MUI Tentang Pengembangan Aset Perbankan Syariah di Indonesia

gomuslim.co.id- Pertumbuhan aset perbankan syariah di Indonesia berjalan cukup positif dalam beberapa tahun ke belakang. Data terakhir pada 2016, aset perbankan syariah mengalami kenaikan sebanyak 20,33 persen atau menjadi sebesar Rp356,50 triliun. Padahal, pada akhir tahun 2015, asetnya masih dalam kisaran Rp296,26 triliun.

Menurut Wakil Ketua Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), Adiwarman Karim, perlu adanya jembatan yang dibangun guna bersama-sama mengembangkan aset perbankan syariah. Salah satunya adalah dengan menerapkan risk appetite reversal atau pengembalian selera terhadap risiko yang masuk ke bank syariah.

"Dengan memperbolehkan risk appetite reversal harusnya bank bukan menolak (pengajuan pembiayaan) tapi mengatakan yang model begini perginya ke bank ini. Jadi sesama bank itu kita menjembatani untuk memberikan rekomendasi," ujarnya, di Jakarta Pusat, Selasa (02/05/2017).

Ia mengatakan dengan adanya aturan risk appetite reversal dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maka akan meningkatkan aset perbankan syariah minimal hingga Rp 13,2 triliun. Bahkan secara maksimal aturan ini akan menambah hingga Rp15,3 triliun aset di bank syariah.

Selain itu, kata dia, bank syariah yang akan berdiri sendiri sebagai Bank Umum Syariah (BUS) perlu melakukan bridging dengan induk usahanya. Hal ini dilakukan dalam mengembangkan platform bisnis seperti sharing sistem teknologi dan informasi sehingga biayanya menjadi lebih murah.

Dirinya menambahkan selain kedua jembatan tadi yang harus dibangun, perlu adanya peran dari pemerintah. Salah satu yang bisa dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong dana haji yang mencapai Rp90 triliun masuk ke sistem bank syariah.

"Dana haji sekarang ada sekira Rp90 triliun. Ini akan kita mintakan baik langsung maupun tidak langsung itu akan masuk ke bank syariah. Selain itu dana yang disimpan dalam bentuk deposito di atas tiga tahun itu 50 persennya bisa diakui sebagai quasi equity," pungkasnya.

Sementara itu, ekonomi Islam global telah menunjukkan perkembangan yang pesat didorong oleh pertumbuhan penduduk muslim dunia yang terkategori sebagai kelas menengah. Diperkirakan pada tahun 2021 total aset keuangan syariah di dunia akan mencapai 3,5 triliun dolar AS dari 2 triliun dolar AS pada 2015.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad mengatakan nilai tersebut akan terus bertumbuh seiring dengan potensi besar sektor syariah dunia. Ia menjelaskan, data dari publikasi State of The Global Islamic Economy Report 2016 menunjukkan bahwa dari total pengeluaran sebanyak 1,9 triliun dolar AS, pengeluaran terbesar diperuntukkan untuk makanan dan minuman yang mencapai 61 persen terhadap total pengeluaran. Jumlah ini diproyeksikan akan meningkat menjadi sebesar 3 triliun dolar AS.

Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki potensi dan kekuatan besar dalam pengembangan sektor jasa keuangan syariah dunia. Dilihat dari aset keuangan syariah, kata Muliaman, saat ini Indonesia menempati posisi ke sembilan terbesar dunia dan diharapkan posisinya akan terus meningkat.

Menurut Muliaman, saat ini Indonesia telah memiliki industri keuangan syariah yang lengkap.  Hal ini dapat dilihat dari sisi kelembagaan syariah yang lengkap terdiri dari perbankan syariah, pasar modal syariah dan industri keuangan non bank Syariah.

"Per Februari 2017, total aset keuangan syariah Indonesia di luar saham syariah sudah mencapai sekitar Rp 897,1 triliun atau 67,21 miliar dolar AS. Paling besar disumbang oleh sektor perbankan Syariah yang mencapai 50 persen," kata Muliaman.

Di sisi lain, potensi pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia juga didukung oleh mayoritas penduduk muslim Indonesia yang berusia muda. Hal ini dapat menjadi peluang bagi sektor keuangan syariah Indonesia untuk menyediakan produk dan jasa keuangan syariah yang variatif dan inovatif sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selain itu, didukung dengan jumlah populasi muslim yang besar, Indonesia bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, dan Qatar, dikategorikan Oleh Global Islamic Finance Report 2016 sebagai Emerging Leaders yakni negara yang memiliki potensi untuk memiliki pengaruh global di sektor jasa keuangan syariah. (njs/dbs)

 

 


Back to Top