Jadi Ragam Pilihan Investasi, Dana Pensiun Syariah Siap Ramaikan Pasar Keuangan Indonesia

gomuslim.co.id- Produk keuangan syariah kini semakin beragam. Hal ini dibuat dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar yang semakin meningkat. Salah satu produk yang bakal meramaikan industri keuangan syariah adalah Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Muamalat sebagai Dana Pensiun Syariah.

Menurut Direktur Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah OJK Mochamad Mukhlasin, adanya dana pensiun syariah ini diyakini dapat menambah besar pangsa pasar keuangan syariah yang baru menyentuh angka 5,00 persen.

Sebelumnya, DPLK Muamalat ini masih diperlakukan seperti Dapen konvensional. Namun, sejak diterbitkannya Peraturan OJK No. 33/POJK.05/2016 tentang Penyelenggaraan Program Pensiun Berdasarkan Prinsip Syariah pada Oktober 2016 lalu, DPLK Muamalat akan dikonversi ke syariah.

"Dapen Muamalat akan konversi ke syariah. Jadi dulu saat izin tahun 90 an tidak harus menyerahkan ketentuan syariah jadi diperlakukan seperti dana pensiun biasa. Sekarang sudah ada aturan syariahnya," ujar Mukhlasin, Jumat (5/5/2017).

Mukhlasin mengungkapkan hal ini sama seperti Bank Muamalat waktu pertama kali dibentuk. Pada tahun 1991 belum ada perbankan syariah, sehingga Muamalat masuk kelompok bank konvensional pada umumnya. Kini aturan perbankan syariah sudah ada.

Sedangkan untuk Dana Pensiun, OJK sedang gencar mensosialisasikannya setelah POJK Dana Pensiun syariah diterbitkan pada tahun lalu. Selain DPLK Muamalat, DPLK BNI atau BNI Simponi juga akan dikonversi menjadi syariah. Sebab, saat ini DPLK BNI juga memberikan pilihan investasi pada produk syariah.

Mukhlasin mengakui masih banyak DPLK yang sulit untuk dikonversi ke Syariah, meskipun telah menyatakan berminat. Kendalanya ada pada pendiri DPLK yang belum memberi persetujuan perubahan ke Syariah tersebut. Selain itu, perumusan peraturan dasar dapen yang dilakukan  2 tahun sekali juga memakan waktu banyak untuk penentuan masuk tidaknya dapen ke syariah.

Padahal sudah banyak perusahaan dana pensiun dalam Ikatan Dana Pensiun Islam Indonesia (IDPII) yang menyatakan berminat mendirikan Unit Usaha Syariah dan konversi. "Jadi mereka masih tunggu dari pendiri, kelanjutan ke syariah bagaimana," kata dia.

Untuk mempercepat proses masuknya dapen ke syariah, OJK akan memperbanyak sosialisasi bersama dengan Dewan Syariah Nasional (DSN). Setelah itu OJK juga akan segera memproses pendirian UUS bagi dapen yang berminat. Mukhlasin optimistis demand terhadap dapen syariah akan semakin meningkat, sehingga ke depannya akan banyak dapen yang konversi ke syariah atau mendirikan UUS.

Beberapa waktu lalu, Deputi Komisioner Pengawas IKNB II OJK Dumoly F. Pardede menuturkan pembentukan dana pensiun dengan prinsip syariah membutuhkan waktu. Meskipun demikian, dia optimistis dalam beberapa tahun ke depan penyelenggaraan jasa berbasis syariah dapat hadir di Indonesia.

“Bikin dana pensiun syariah ini butuh waktu, yang penting ada dulu rumahnya. Nanti pasti ada peminatnya,” ujarnya.

Dumoly menilai hal serupa juga terjadi pada sektor jasa keuangan lainnya. Dia mencontohkan sektor perbankan juga membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk menghadirkan layanan berbasis syariah. “Perlu waktu bertahun-tahun, sebab masyarakat juga belum begitu melek. Asuransi pun juga begitu,” katanya.

Deputi Komisioner Pengawas IKNB I OJK Edy Setiadi mengakui hingga saat ini belum ada dana pensiun yang  secara resmi menyelenggarakan layanan berbasis syariah.

Namun, dia menjelaskan sejumlah dana pensiun sudah mengalokasikan portofolio investasinya pada instrumen syariah. “Belum ada yang dibentuk secara resmi, tapi DPLK Bank Muamalat dan DPPK dari islnstitusi berbasis Islam sudah menginvestasikan asetnya di  syariah,” ungkapnya. (njs/dbs)


Back to Top