Angkat Warisan Budaya Islam Asia Tenggara, Museum Aceh Gelar Pameran Batu Nisan

gomuslim.co.id-  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui UPTD Museum Aceh akan menggelar pameran khusus mengenal batu nisan Aceh yang akan dimulai sELASA (09/05/2017) di Gedung Temporer Museum Aceh.

Almunizal Kamal selaku panitia pameran mengatakan untuk persiapan kegiatan pameran temporer sudah rampung 95 persen. “Kali ini kita angkat tema tentang mengenal batu nisan Aceh sebagai warisan budaya Islam di Asia Tenggara,” jelasnya.

Kegiatan paeran di Museum Aceh ini terselenggara atas dukungan dan kerjasama dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh-Sumut dan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA).

“Kita akan tampilkan sekitar dua puluhan koleksi batu nisan yang diselamatkan oleh kawan-kawan komunitas MAPESA yang tersebar dibeberapa lokasi dan wilayah yang ada di Aceh. Selain itu juga ada tiga puluhan foto serta beberapa lukisan dan informasi tentang penyebaran batu nisan Aceh di wilayah Asia Tenggara juga akan dipamerkan,” papar Almunizal.

Almunizal juga menyebutkan, dalam pameran khusus ini juga akan ditampilkan koleksi batu nisan dari tiga kesultanan yang ada di Aceh, seperti Lamuri, Samudera Pasai dan Aceh Darussalam.

Selain pameran,  acara ini juga akan diisi seminar dan pemutaran video dokumenter penyelamatan batu nisan dan kegiatan rutin dari MAPSEA di Aceh saat membersihkan, meneliti dan menyelamatkan batu nisan.

“Kami berharapseluruh masyarakat dan generasi muda Aceh dapat hadir melihat pameran tersebut dan mengikuti rangkaian acara yang telah dipersiapkan oleh pihak Museum Aceh dan panitia, “ kata Almunizal.

Selain itu, adanya rangkaian seminar ini diharapkan generasi muda bisa lebih mengenal budaya dan sejarah Aceh lebih mendalam. Tak hanya itu, kegiatan ini juga menjadi momen spesial bagi tamu Penas Petani – Nelayan XV 2017 saat berada di Aceh dan nantinya ada 6 orang pemandu dari Mapesa dan BPCB yang siap memandu.

Untuk diketahui, Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Pada waktu itu bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Bangunan tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus  sampai 15 November 1914.

Setelah Indonesia Merdeka, Museum yang berlokasi di Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah No.10, Peuniti, Baiturrahman, Kota Banda Aceh  menjadi milik Pemerintah Daerah Aceh yang pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tk. II Banda Aceh. Pada tahun 1969 atas prakarsa T. Hamzah Bendahara, Museum Aceh dipindahkan dari tempatnya yang lama (Blang Padang) ke tempatnya yang sekarang ini, di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tanah seluas 10.800 m2. Setelah pemindahan ini pengelolaannya diserahkan kepada Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (BAPERIS) Pusat. (fau/disbudparaceh)

 

 


Back to Top