Ini Pandangan Gus Mus Soal Islam Moderat

gomuslim.co.id- Islam pada dasarnya adalah gagasan yang moderat. Jadi kalau tidak moderat, maka itu bukanlah Islam. Demikian disampaikan Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri dalam sebuah acara Mata Najwa di Masjid Bayt Alquran, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Kamis (11/05/2017).

“Moderat itulah Islam. Jadi bukan Islam moderat. Islam itu memang moderat. Jangan Islam moderat, lalu Islam apalagi. Kalau tidak moderat, tidak Islam,” kata kiai akrab disapa Gus Mus itu.

Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Leteh, Rembang ini mengatakan bahwa Allah SWT melarang segala sesuatu yang berlebih sebagaimana yang tertera dalam Alquran. Bahkan, Nabi Muhammad mengatakan, sebaik-baiknya sesuatu adalah yang di tengah-tengah. “Semua yang ekstrem-ekstrem itu dilarang di Qur’an, wa la tusrifu (jangan berlebih-lebihan),” jelasnya. 

Namun permasalahannya, saat ini baik yang ekstrem kanan maupun kiri juga mengaku yang moderat. Terkait hal itu, Gus Mus mengumpamakan moderat itu dengan mengukur kedalaman air di sungai. Standar ukurannya bukan dengan menggunakan tubuh sendiri-sendiri.

“Jangan pakai tubuh (untuk mengukur kedalaman air di sungai). Kalau kita jangkung, kita akan mengatakan ini dangkal sekali. Kalau kita cebol kita akan mengatakan ini dalam sekali. Jadi, pakai apa?” tanyanya.

Menurut penulis buku Membuka Pintu Langit itu, banyak orang yang mengukur sesuatu dengan diri sendiri, bukan dengan ukuran yang pasti dan telah disepakati. “Katanya Alquran yang dijadikan ukuran. Tapi tidak mau perbedaan,” kata Gus Mus.

"Islam itu adil. Banyak sekali perintah untuk adil. Anda tidak akan bisa adil kalau terlalu berlebihan. Memenuhi perintah Allah untuk adil tidak akan bisa dilakukan bila masih berlebihan, terutama dalam membenci," ujar Gus Mus.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, menurut Gus Mus, yang perlu dilakukan ialah meningkatan keilmuan. Seluruh umat beragama mesti terus mencari tahu dan tidak hanya melihat persoalan dari satu sisi.

"Intinya memang ilmu. Jangan berhenti belajar. Kalau membela keyakinan, belajar tentang keyakinan Anda. Yang jadi masalah itu ialah orang yang tidak mengerti merasa mengerti," tutur Gus Mus.

Pada kesempatan yang sama, Cendekiawan Muslim Quraish Shihab mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia harus bersyukur dengan adanya Pancasila sebagai titik temu berbagai perbedaan pendapat terkait dengan ideologi. "Kita tidak bisa hidup tanpa perbedaan. Agama mengatakan cari titik temu. Pancasila titik temu yang ada di Indonesia," paparnya.

Quraish mengatakan itu terkait dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini, yang tengah menghadapi intoleransi dan sikap sebagian kalangan yang menafikan keberagaman. "Kejadian ini banyak terjadi beberapa waktu belakangan. Seseorang yang tidak memiliki cukup pengetahuan soal agama banyak berkomentar, tanpa sebelumnya mencari tahu. Bodoh, tidak tahu agama, ngomong. Emosi beragama berlebihan menjadi pengantar ekstremisme," ujarnya.

Menurut Quraish, saat ini banyak orang yang terpengaruh dan mau diadu domba. Untuk menghindarinya, seseorang harus sering bertemu. Harus ada dialog dan kesepahaman untuk merasa bahwa kehidupan harus dipikul bersama agar tidak mudah diadu domba.

"Saya yakin orang yang paham Alquran tidak akan melakukan pemecahbelahan, termasuk pada nonmuslim," ujar Quraish.

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai ancaman keberagaman Indonesia saat ini ialah munculnya monopoli pihak-pihak tertentu dalam menilai kebenaran. Hal tersebut tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

"Kondisi keberagamaan Indonesia, saya melihat secara makro kita harus bersyukur Indonesia di tengah keberagaman yang sangat kompleks sebenarnya masih memegang jati diri religiositas. Masih muncul di etnik dan wilayah mana pun," ujar Lukman.

Menag menambahkan banyak orang tidak menyelami agama lebih dalam sehingga menjadi salah satu ancaman keberagaman. "Mereka yang belajar agama hanya secara formal dan kurang menyelami sisi luarnya yang tidak bisa menerima perbedaan," tutupnya. (njs/dbs)

Baca Juga : 

Menag: Indonesia Condong ke Corak Islam Moderat