Siapkan Modul Pengembangan Diri Guru Madrasah, Kemenag Wadahi Publikasi Ilmiah

gomuslim.co.id- Kementerian Agama terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah. Terbaru, melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Kemenag mulai menyiapkan modul pengembangan diri guru madrasah.

Menurut Kasubdit GTK Raudlatul Athfal (RA) Nanang Fathurrahman, modul yang disusun ini diharapkan bisa memberikan pedoman bersama para pendidik dalam membuat karya inovatif dan pengembangan diri, serta publikasi ilmiah.

"Modul disusun oleh para guru, karena merekalah yang lebih memahami kebutuhannya sesuai pengalaman dalam mengajar," ujar Nanang di hadapan para guru peserta Penyusunan Modul Pengembangan Diri, Publikasi Ilmiah dan Karya Inovasi di Batam, Selasa (16/05/2017).

Lebih lanjut, Nanang menjelaskan proses penyusunan modul ini akan dilakukan dalam beberapa tahap. "Saat ini merupakan tahapan mengeksplor pengembangan diri guru madrasah, publikasi ilmiah yang sesuai dengan konteks madrasah dan karya Ilmiyah yang sesuai dengan konteks madrasah," katanya.

Kasubdit GTK MI/MTs Kidup Supriyadi menambahkan, kegiatan ini merupakan upaya Kemenag dalam mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk peningkatan guru madrasah. Setelah dokumen ini selesai, akan diupload pada web Kemenag sehingga para guru mudah mengakses.

"Modul ini merupakan salah satu materi Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB), sehingga keberadaanya sangat dibutuhkan," tuturnya.

Kegiatan yang dilaksanakan dari 15 hingga 17 Mei 2017 ini diikuti 40 peserta. Mereka terdiri dari tim pengembang PPKB, widyaiswara Pusdiklat Kemenag RI, akademisi, pengawas, kepala madrasah, serta pejabat struktural dan JFU Direktorat GTK.

Tampak hadir, Kasubdit MA Dit. GTK Madrasah Siti Sakdiyah, Kasubbag TU Dit. GTK Madrasah Sidik Sisdiyanto, serta JFU di Dit. GTK Madrasah.

Sekadar informasi, Peraturan Menteri Agama Nomor 42 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama membagi Direktorat Madrasah menjadi dua, yaitu: Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK), serta Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).

Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin meminta agar keberadaan pemecahan struktur ini berimplikasi pada optimalisasi pelaksanaan tugas pembinaan. "Direktorat GTK Madrasah harus mampu memberikan perhatian yang serius atas keberadaan guru, terutama yang terkait dengan nasib guru dalam hal ini pemberian tunjangan profesi dan pelaksanaan sertifikasi," ujar Kamaruddin.

Menurutnya, guru merupakan elemen paling menentukan kualitas pendidikan madrasah di Indonesia untuk kemajuan bangsa di masa depan. Guru Besar UIN Alaudin Makassar ini mengingatkan pentingnya guru memiliki kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi.

"Ketika gelar profesional telah dimiliki (sertifikasi), guru harus mampu menghasilkan siswa-siswi yang berkualitas," tandasnya.

Kamarudin mengaku kalau Direktorat GTK pada tugas yang tidak ringan. Salah satunya adalah terkait guru madrasah yang masih mismatch, berbeda antara sertifikat atau mata pelajaran yang diampu dengan latar belakang pendidikannya.

Persoalan lainnya terkait pembayaran tunjangan profesi dan SK Inpassing. Kamaruddin meminta Direktorat GTK Madrasah untuk menemukan formula solusinya serta terus berinovasi memberikan layanan terbaik untuk seluruh guru madrasah.

Kamaruddin berharap, optimalisasi program SIMPATIKA akan dapat merevitalisasi tata kelola GTK Madrasah yang lebih baik, khususnya menyelesaikan permasalahan tunjangan profesi guru dan SK Inpassing. "Termasuk mapping kebutuhan guru per mata pelajaran, serta implementasi program pengembangan keprofesian guru," ungkapnya. (njs/kemenag/dbs)

 


Back to Top