Tahun Ini LPPOM-MUI Jambi Targetkan 200 UMKM Bersertifikasi Halal

gomuslim.co.id- Sertifikasi dan label halal menjadi kebutuhan pokok bagi kalangan pengusaha kecil dan menengah. Hal ini dalam rangka menunjang kualitas produk supaya dapat merambah pasar yang lebih luas, khususnya retail modern.

Demikian disampaikan Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI) Provinsi Jambi Prof RA Muthalib di Jambi, Selasa (16/5/2017). Ia menungkapkan bahwa pihaknya menargetkan dapat memberikan sertifkasi halal produk pangan untuk 200 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di daerah itu pada tahun 2017.

"Target kita untuk program sertifikasi halal ada 200 UMKM yang menghasilkan produk pangan. Ritel modern sudah menyediakan ruang untuk produk UMKM, tapi kalau mau masuk ke ritel modern itu kan persyaratannya harus sertfikasi halal, jadi pelaku usaha kita bantu audit dan jika persyaratannya lengkap dan sudah terpenuhi barulah bisa diterbitkan sertifikasi halal itu," paparnya.

LPPOM MUI Jambi sudah membuka pendaftaran pada saat jam kerja di kantor MUI Provinsi Jambi bagi pelaku UMKM untuk diaudit produknya supaya mendapatkan sertifikat dan label halal dari produk yang mereka hasilkan. "Jika usaha mikro atau usaha rumahan ada yang biaya sendiri malahan kita bantu biayanya, misalnya jika biaya standarnya Rp 2 juta maka kita bantu jadi bisa bayar Rp 1 juta saja sudah cukup," tuturnya.

MUI, kata dia, setiap tahun pasti mengadakan safari ramadhan ke daerah-daerah di Provinsi Jambi. Pada saat safari ramadhan tersebut pihak MUI juga melakukan audit bagi produk yang dihasilkan pelaku UMKM.

Menurutnya, proses untuk mendapatkan sertifkasi halal tersebut tidak membutuhkan waktu lama dan setelah berkas pendaftaran telah lengkap maka bisa langsung dilakukan audit produk yang dihasilkan.

"Jika berkasnya sudah masuk langsung kita cek atau diaudit, produk yang telah memiliki sertifikat halal sehingga lebih terjamin dan konsumen tidak lagi khawatir," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Indonesia Islamic Travel Communication Forum (ITCF) Priyadi Abadi, pilar utama wisata halal adalah makanan halal dan pemenuhan kewajiban shalat. Sehingga sertifikat halal memang jadi faktor penting. 

“Dalam wisata halal, sertifikat halal penting karena sertifikatnya bukan untuk kita, tapi wisatawan,” ujarnya.

Sertifikasi halal bukan Arabisasi, tapi kebutuhan sebagai konsekuensi atas tuntutan konsumen atau wisatawan Muslim. Negara-negara minoritas Muslim yang menyasar wisatawan halal sudah melakukan itu.

Ia mencontohkan Taiwan, meski belum seluruhnya halal, Taiwan sudah ramah wisatawan Muslim. Di mal  atau tempat umum memang tidak ada mushala, tapi pengelola menyediakan area untuk shalat. Belum lagi Thailand, Korsel, dan Jepang yang melihat pasar Indonesia luar biasa. “Lembaga sertifikasi halal Taiwan tidak main-main. Kalau melanggar, dendanya besar,” kata Priyadi yang juga Chief Executive Officer (CEO) Adinda Azzahra Travel. (njs/dbs)

 


Back to Top