Universitas London Gelar Konferensi Toleransi dalam Islam

gomuslim.co.id- Nilai-nilai toleransi kini menjadi sorotan dunia. Islam sejatinya merupakan agama yang menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian. Jadi, jika ada tindakan-tindakan ekstrimisme dan hasutan kekerasan, maka hal tersebut tidak sesuai nilai-nilai moderat dalam Islam.

Demikian disampaikan Sekjen Liga Muslim Dunia (MWL), Mohhammed bin Abdulkarim Al Issa dalam konferensi yang digelar di University of London. "Konferensi bertujuan untuk menekankan toleransi terhadap agama Islam dan nilai-nilai belas kasih serta keadilan," kata Al Issa seperti dilansir dari publikasi Arab News, Kamis (18/05/2017).

Di depan ulama senior Eropa dan politisi Inggris, Al Issa menekankan itu semua tidak pula sesuai teks-teks Alquran dan As Sunnah. Karenanya, ia mengaku sangat ingin mempromosikan budaya damai, toleransi dan dialog konstrukti antarkelompok.

Al Issa berpendapat, ekstrimisme apalagi terorisme mengabaikan yurisprudensi dan legitimasi, mengubah fatwa dan ketentuan, jauh dari belas kasih, perbuatan baik apalagi bermoral. Ia menekankan, perlu kekalahan intelektual dari ekstrimisme.

"Bukan entitas militer dan tidak memiliki kekuatan politik karena organisasi teroris didasarkan atas ideologi ekstrim," ujar Al Issa. Konferensi bertajuk Toleransi dalam Islam itu sendiri dibuka Profesor Mohammaed Abdel Halim dari University of London. Ada pula Ketua King Fahd Chair untuk Studi Afrika dan Timur Tengah.

Sementara itu, di tempat berbeda, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia sedang mengatur jadwal yang cocok untuk Presiden RI Joko Widodo guna menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab-Amerika Serikat (AS) di Riyadh, Arab Saudi.

"Kami masih mengatur jadwal Presiden yang cocok bagaimana, karena KTT itu digelar di Riyadh pada 21 Mei, sedangkan 22 Mei pukul 10.00 pagi (waktu Indonesia), Presiden menerima kunjungan Raja Swedia," kata Juru Bicara Kemenlu RI, Arrmantha Nasir di Jakarta, Kamis, (18/05/2017).

Pertemuan ini dianggap sebagai pertemuan yang cukup penting. Pasalnya, ini adalah kunjungan kenegaraan perdana Presiden AS Donald Trump untuk bertemu dengan negara-negara Islam.

Arrmanatha menegaskan, jika memang Presiden terpaksa tidak bisa menghadiri KTT ini, Indonesia pasti akan mengirimkan wakilnya untuk hadir. "Maka dari itu, jadwal sedang kami atur," jelas dia.

Dikatakan Arrmanatha, sekitar 50 negara akan hadir di KTT ini, begitu juga dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Sekretaris Jendral OKI serta Liga Arab. "Karena Indonesia pasti akan mengirimkan wakilnya ke Riyadh, nanti kita akan sampaikan pengalaman soal bagaimana demokrasi bekerja di Indonesia," ungkap Arrmanatha.

Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar, maka dari itu KTT ini dinilai sangat tepat untuk dihadiri Indonesia di mana Indonesia akan menyampaikan pandangannya terutama soal toleransi dan keberagaman. "Kita juga akan sampaikan pandangan-pandangan dan langkah-langkah bagaimana memerangi terorisme, termasuk soft power dan hard power kita," pungkasnya. (njs/dbs)


Back to Top