Pontianak Baru Miliki Lima Restoran dan Rumah Makan Bersertifikat Halal

gomuslim.co.id- Pontianak dikenal sebagai salah satu kota wisata kuliner di Nusantara dan tempat pariwisata. Namun sampai saat ini Pontianak belum menerapkan konsep wisata halal.

Berdasarkan data dari Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata. Pada tahun 2016 dari sekitar 1.500 restoran dan rumah makan di Kota Pontianak, hanya 5 di antaranya yang memiliki Sertifikat Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sedangkan MUI sendiri merupakan  satu-satunya lembaga yang memiliki wewenang memberikan dan mengeluarkan sertifikat halal.

Kepala Dinas Olahraga, Pemuda, dan Pariwisata (Disporapar) Pontianak, Syarif Saleh, mengatakan bahwa pihaknya telah menginventarisir mengenai hal itu. “Kita sudah mendata, sudah sangat banyak, cuma nanti akan kita sinkronkan lagi,” kata Syarif, Kamis (25/5/2017).

Lanjut Syarif, pengembangan wisata halal memang sangat penting. Terlebih Indonesia adalah satu diantara negara yang penduduknya Muslim, potensi wisata halal ini menjanjikan. Terlebih diceritakannya kalau kunjungan wisatawan ke Pontianak setiap tahunnya selalu meningkat.

“Kalau masalah halal, itu ranah orang, nanti kita akan ada pertemuan. Kadang baru mau mulai (usaha), baru napas istilahnya, tapi sertifikasi halal mahal, mana mampu, itu yang perlu solusi,” katanya.

Lebih jauh diceritakannya kalau biaya pembuatan sertifikat halal berkisar Rp 2,5 sampai Rp 5 Juta rupiah. Nilai ini dinilai mahal, terlebih bagi para pelaku UMKM yang baru merangkak membangun usaha.

Sementata itu, dalam Forum Diskusi Grup antara Pemkot Pontianak dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat dan Kosmetika (LPPOM) MUI Kalbar beberapa waktu lalu, Direktur LPPOM MUI Kalbar, Nora menerangkan proses pembuatan sertifikasi halal sudah ditetapkan dalam Standar Operasional. Tahapannya dimulai dari pendaftaran hingga rapat Komisi Fatwa.

Lebih lanjut dijelaskannya kalau halal sesuai syariat islam itu tidak hanya diomongkan tetapi harus benar-benar. Sesuai dengan fakta. Untuk mengetahui itu maka harus dilakukan audit semua bahannya.

"Prosesnya tentu dengan melibatkan audit semua bahan, penyajian dan hal lain yang terkait dengan halal. Itu semua sesuai SOP MUI,” kata dia.

Dikatakannya, proses tergantung pada komitmen pelaku usaha. Ada perusahaan yang baru seminggu mendaftar, sudah menerima sertifikasi halal. Pihaknya yakin jika pihak produsen komitmen dan ingin cepat karena sertifikasi itu harus dari dua pihak yaitu LPPOM dan produsen. (nat/dbs)

 

 


Back to Top