Rilis Data Terbaru OJK: Daftar Efek Syariah Capai Angka 351 Emiten

gomuslim.co.id- Dalam setahun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selalu menerbitkan Daftar Efek Syariah (DES) dua kali, yaitu pada akhir bulan Mei dan akhir bulan November. Baru-baru ini, OJK  mendata daftar efek syariah di pasar modal telah mencapai angka tertinggi, yakni 351 emiten. Sedangkan, pada akhir 2016 jumlah daftar efek syariah di pasar modal baru mencapai 347 emiten.

Data tersebut tertuang dalam keputusan OJK Nomor: KEP-19/D.04/2017 tentang Daftar Efek Syariah terdiri dari 351 Efek jenis Saham Emiten dan Perusahaan Publik, serta Efek Syariah lainnya. Penerbitan keputusan itu merupakan panduan investasi bagi pihak pengguna Daftar Efek Syariah, seperti manajer investasi pengelola reksa dana syariah, asuransi syariah dan investor yang mempunyai keinginan untuk berinvestasi pada portofolio Efek Syariah.

Direktur Pengawas Pasar Modal Syariah OJK Fadilah Kartikasari menyatakan, daftar efek syariah yang baru akan berlaku pada 1 Juni 2017. Seiring hal itu, ke depan daftar tersebut dapat menjadi panduan berinvestasi di efek syariah.

Daftar efek syariah dapat digunakan sebagai panduan bagi manajer investasi pengelola reksa dana syariah, investor syariah baik institusi maupun individu, penyedia indeks syariah, seperti PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menerbitkan Jakarta Islamic Index (JII) maupun di Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).

“Dari 351 emiten yang termasuk di daftar efek syariah, terdapat tiga emiten dari entitas syariah dan 348 emiten yang tidak menyatakan bahwa kegiatan usaha serta pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip syariah. Kendati, saham dari 348 saham emiten tersebut memenuhi kriteria sebagai daftar efek syariah,” ujarnya di Jakarta, Selasa (30/5/2017).

Berkaitan daftar efek syariah, Fadilah mengungkapkan, mayoritas atau sebanyak 90 emiten kategori syariah berasal dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi. Jumlah tersebut setara dnegan 25,64 persen dari total efek syariah yang ada di Indonesia.

“Sementara, sisanya diikuti emiten dari sektor properti, real estate, dan konstruksi bangunan sebanyak 59 saham atau 16,81 persen. Lalu, di samping itu, porsi sebesar 14,81 persen atau setara dnegan 52 saham emiten syariah berasal dari industri dasar dan kimia,” papar dia.

Adapun, sejak awal Januari-29 Mei 2017, terdapat delapan emiten baru yang mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari delapan emiten baru tersebut, terdapat empat emiten yang sahamnnya ditetapkan masuk ke dalam daftar efek syariah.

Ke-4 emiten itu, adalah PT Forza Land Indonesia Tbk (FORZ), PT Sanurhasta Tbk (MINA), PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO), dan PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA).

Sebagai informasi, dalam pasar modal syariah dikenal dengan istilah saham syariah. Ada kriteria saham dikatakan sebagai saham syariah. Saham dikategorikan sebagai efek syariah jika diterbitkan oleh perusahaan syariah atau perusahaan yang sahamnya dikategorikan sebagai saham syariah. Bagi perusahaan yang anggaran dasarnya non syariah, perusahaan tersebut harus memenuhi kriteria-kriteria lainnya.

Pertama, kegiatan usaha utama perusahaan tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Hal-hal yang bertentangan dengan prinsip syariag misalnya produksi, distribusi, menjual, atau menyediakan barang yang haram zat maupun sifatnya, perjudian atau permainan tergolong judi, perdagangan yang dilarang, jasa keuangan ribawi seperti bank dan lembaga pembiayaan konvensional, jual beli risiko seperti asuransi konvensional atau melakukan transaksi yang mengandung unsur suap.

Kedua, harus memenuhi rasio keuangan yang telah ditetapkan. Rasio antara total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari 45 persen dan rasio antara total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal dibandingkan dengan total pendapatan tidak lebih dari 10 persen. Cara mengetahui saham termasuk saham syariah dapat dilihat di dalam Daftar Efek Syariah (DES). (njs/dbs)

 

 

 


Back to Top