Lapas Malang Dirikan Pondok Pesantren Khusus Narapidana

gomuslim.co.id- Keterlibatan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dalam memberikan arahan dan binaan narapidananya menjadi santri membuat sejumlah lapas mendirikan pondok pesantren. Hal ini yang dilakukan oleh Lapas Klas 1 Malang, Jawa Timur yang baru meresmikan Gedung Pesantren at-Taubah khusus narapidana.

Lapas yang akan diisi 400 narapidana ini telah resmi dibuka oleh Menteri Hukum dan HAM RI, Yassona Laoly. Sementara itu, Kepala Pengamanan Lapas Klas 1 Malang, Sarwito mengatakan hanya 400 dari 2.200 narapidana yang bisa masuk dan mengikuti kegiatan di pesantren tersebut. Sebab, sebelumnya, pihaknya telah melakukan proses kualifikasi terlebih dahulu.

"Para napi yang masuk pondok pesantren sebelumnya sudah lolos proses assesmentnya oleh kami," kata Sarwito.

Adapun kualifikasinya selain tekunan dalam mengikuti proses shalat berjamaah, kemampuan membaca Alquran para narapidana juga dinilai. Ada beberapa kategori dalam penentuan kemampuan baca dan tulis Alquran ini. Beberapa di antaranya seperti kategori A yang berarti lancar, B untuk yang masih terbata-bata dan C bagi mereka yang belum bisa tapi memiliki keinginan untuk mendalami Alquran.

Dia mengaku dari sejumlah narapidana yang mengikuti kegiatan pesantren, hampir sebagian besar berasal dari pelaku narkoba. Kemudian mereka juga relatif lebih lama masa penahanannya. Oleh sebab itu, mereka dianggap lebih memerlukan masa tenang untuk memperbaiki diri melalui pondok pesantren tersebut.

“Dalam proses pembelajaran di pondok pesantren ini,  narapidana akan menjalankan kegiatan keagamaan setiap hari. Beberapa di antaranya seperti salat berjamaah, salat tarawih, tadarusan dan mengisi atau mendengarkan ceramah. Mereka juga belajar tulis Alquran serta belajar azan bagi mereka yang belum bisa," terang Sarwito.

Kemudian, untuk para pengisi ceramah, pihak lapas selalu mengundang orang-orang yang telah diakui kredibilitasnya. Organisasi masyarakat yang fokus pada dakwah keliling, para ulama dan perwakilan Kementerian Agama (Kemenag).

Pihaknya juga berharap agar para napi yang menjadi santri di pondok pesantren bisa menjadi pendakwah setelah keluar dari lapas. Bahkan, tidak menutup kemungkinan para narapidana yang berada di blok santri juga menjadi pengkhutbah di masjid-masjid. (nat/dbs)


Back to Top