Ini Komentar OJK tentang Sektor Pembiayaan Berisiko Bank Syariah

gomuslim.co.id- Laporan terbaru kuartal I 2017, Non Performing Finance (NPF) atau rasio pembiayaan bermasalah bank syariah masih diangka 4,61 persen, sedikit turun dari periode sama 2016 5,35 persen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun turut berkomentar terkait persoalan NPF yang masih tinggi ini.

Menurut Direktur Group Pengawasan Spesialis III OJK, Jasmi, mengatakan saat ini NPF perbankan syariah secara agregat sudah di bawah 5%. “Jika ada kenaikan tentu ada proses untuk menurunkannya. Untuk menurunkan NPF, OJK mendorong bank untuk menyelesaian pembiayaan yang masuk kategori macet,” ujar Jasmi, Rabu (07/06/2017).

Selain itu bank syariah juga diharapkan meningkatan manajemen risiko penyaluran kredit. Sehingga diharapkan pembiayaan baru yang tumbuh masuk kategori sehat. Jika melihat data OJK, sampai kuartal 1 2017 walaupun secara agregat NPF mengalami penurunan, namun ada beberapa sektor yang mengalami kenaikan pembiayaan bermasalah.

Kenaikan NPF ini ada di empat sektor yaitu pertambangan, real estate, perantara keuangan, dan kelistrikan. Bahkan dua sektor yaitu pertambangan dan real estate mempunyai NPF masing-masing sebesar 10,03 ersen dan 9,02 persen.

Sedangkan untuk perantara keuangan dan kelistrikan tercatat mempunyai NPF sebesar masing-masing 7,28 persen dan 6,68 persen.

Sebagai tambahan, beberapa bank syariah menghindari beberapa sektor yang berisiko tinggi terkena pembiayaan bermasalah (NPF). Berdasarkan data statistik perbankan syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tercatat ada empat sektor yang mempunyai NPF cukup tinggi yakni pertambangan, real estate, perantara keuangan dan kelistrikan.

Empat sektor ini mempunyai rasio kredit macet melebihi 5 persen. Bahkan untuk sektor pertambangan dan real estate mempunyai rasio NPF masing-masing 10,03 persen dan 9,02 persen. Sedangkan untuk sektor perantara keuangan dan kelistrikan sebesar masing-masing 7,28 persen dan 6,68 persen.

Jika dibandingkan perode yang sama dua tahun terakhir, empat sektor ini relatif mengalami tren kenaikan NPF. Beberapa bankir mengaku sampai kuatal I 2017 memang mempunyai eksposure di empat sektor di atas.

Direktur Financing Risk and Recovery BSM, Choirul Anwar mengatakan pihaknya saat ini memang mempunyai eksposure di empat sektor tersebut. “Namun NPF disektor real estate dan perantara keuangan masih terkendali di bawah 3 persen,” ujar Choirul.

Sampai kuartal II 2017, Choirul memproyeksi NPF akan sedikit membaik dibandingkan kuartal I 2017. Sebagai gambaran, NPF BSM sampai kuartal I 2017 sebesar 4,91 persen.

Untuk menurunkan NPF beberapa bankir sudah menyiapkan strategi. John Kosasih, Presiden Direktur BCA Syariah mengatakan, bank akan melakukan peningkatan manajemen risiko dari pemberian pembiayaan, pengelolaan dan penyelesaian. “Alhamdulliah NPF kami tercatat di angka 0,48 persen sampai kuartal I 2017,” ujar John.

BSM juga sudah menyiapkan startegi untuk menurunkan NPF secara umum yaitu dengan upaya penagihan, restrukturisasi dan penjualan agunan. Selain itu bank juga mengupayakan pembiayaan yang baru dicatat mempunyai kualitas yang baik dan tidak jatuh ke NPF. (njs/dbs)


Back to Top