IITCF: Alat Shalat Jadi Media Edukasi Wisata Halal

gomuslim.co.id- Berkembangnya wisata halal saat ini di berbagai pariwisata mancanegara menginisiasi biro perjalanan Islami membumikan alat shalat. Aksi ini juga didukung dengan adanya edukasi wisata halal ke berbagai tempat yang banyak dijadikan tujuan wisata halal.

Ketua Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF), Priyadi Abadi mengatakan pihaknya memiliki program Tebar Sejuta Perangkat Shalat di Seluruh Dunia termasuk ke hotel, rest area, mal, pusat rekreasi, dan tempat-tempat lain di berbagai negara. Mereka berharap kebutuhan wisatawan Muslim jian dimudahkan.

“Kalau ke mal di luar negeri, wisatawan Muslim sulit bila hendak shalat. Jadi saat menyerahkan alat shalat ini, mereka edukasi juga pengelola mal untuk menyediakan sedikit tempat untuk shalat dan beri tahu arah kiblatnya, terutama di negara mayoritas non Muslim,” kata Priyadi dalam acara bedah buku Travel Muslim Solution di Ballroom Masjid Hubbul Wathan Islamic Center, Mataram, NTB, Rabu (07/06/2017).

Lanjutnya, ia mengingatkan bahwa keawajiban biro perjalanan Muslim untuk sampaikan hal itu, kalau tidak mereka tidak akan pernah tahu. “Respons yang mereka dapat pun beragam, bahkan ada yang menolak. Tapi mereka menyampaikan kalau begitu, para pengelola destinasi harus siap ditinggalkan wisatawan Muslim,” tandasnya.

Pihaknya merasa sebagai umat Muslim itu punya posisi tawar, tapi harus bersama-sama dan pihaknya memerhatikan itu. Sebaliknya, para pengusaha biro perjalanan Muslim juga ingin contoh positif dari wisata halal luar negeri bisa diaplikasikan di Indonesia. Di berbagai negara sudah ada masjid-masjid raya seperti di Roma dan Paris.

Warga Indonesia punya masjid di Belanda. Sementara warga Turki punya masjid di beberapa negara. "Iri juga dengan Turki, terutama di Eropa. Mereka sangat kompak dan bisa bangun masjid besar," kata dia.

Sementara, di Indonesia ia mengaku prihatin. Hotel bagus dan mewah, namun tempat shalatnya di basement yang gelap dan bau. “Masih banyak yang berpikir dari pada kamar jadi mushala, lebih baik dijual jadi kamar komersil. Pelaku industri pariwisata Indonesia belum menganggap wisata halal itu sebagai peluang,” ujarnya. (nat/dbs)

 


Back to Top