Begini Warga Muslim Bali Lestarikan Tradisi Bulan Ramadhan

gomuslim.co.id- Setiap bulan Ramadhan di sebuah perkampungan Islam Kepaon di Denpasar terdapat tradisi Megibung. Ratusan warga memenuhi Masjid Al-Muhajirin menjelang adzan maghrib. Menurut seorang tokoh masyarakat Kampung Islam Kepaon, Haji Ishak Ibrahim, tradisi Megibung memiliki makna kerukunan.

Sementara itu, tradisi Megibung sendiri sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu. Dijelaskan Ishak, selama bulan Ramadan warga Kampung Islam Kepaon rutin mengadakan tadarus Alquran.

Setiap malam setelah shalat tarawih warga membaca tiga juz sampai menjelang waktu sahur. Maka dalam 10 hari, khataman Alquran sebanyak 30 juz.

"Kita melalui 10 hari puasa dengan tenang, serta khataman dalam 10 hari. Tujuan Megibung sebagai tasyakur karena kesehatan dan rezeki yang luar biasa. Demikian selanjutnya di hari ke-20 dan ke-30, Megibung kembali dilakukan,” tutur Ishak.

Kemudian, hal unik lainnya dari tradisi Megibung adanya acara makan bersama dalam satu wadah. Hidangan lauk-pauk yang disajikan berbeda-beda.

“Biasanya satu wadah, ada empat atau lima orang yang makan bersama. Tidak ada rasa canggung di antara mereka saat Megibung. Anak-anak sampai orang tua pun bisa makan dalam satu wadah. Mereka tinggal menyesuaikan makanan yang diinginkan,” katanya.

Sementara itu, semua makanan Megibung dari sumbangan warga Kepaon. "Ibu-ibu di sini merasa bahagia kalau bisa membuat hidangan untuk Megibung," ujar salah satu warga Kepaon, Mudrikah.

Dirinya mengaku sudah ikut tradisi Megibung sejak masih berusia 7 tahun. "Ya, selalu dari dulu kami menikmati kebersamaan ini," katanya.

Warga yang menyediakan hidangan makanan ini dibagi menjadi tiga. Warga Kampung Islam Kepaon menyumbang bergiliran dari sisi kelod (selatan), tengah, dan kaja (utara) setiap 10 hari. Saat 10 hari Ramadan ini sumbangan dimulai dari warga sebelah selatan.

Tradisi Megibung ini menyedot antusiasme masyarakat di luar Kepaon, salah satunya Riza Wulandari dari Ponorogo, Jawa Timur. Ia baru satu tahun tinggal di Bali. "Saya juga baru kenal dengan warga di sini," katanya.

Dirinya pun tidak canggung makan bersama lima orang warga Kepaon dalam satu wadah dan menikmai iap dinamika tradisi Megibung. "Ini yang bikin enak, sebagai makna kebersamaan," ujar Riza. (nat/tempo/dbs/foto: ilustrasi)


Back to Top