Jadi Percontohan, Inilah Masjid Ramah Lingkungan di Kota Bekasi

gomuslim.co.id- Masjid Ramah Lingkungan dan Ramah Anak, begitu DKM menyebut masjid yang berdiri di lahan seluas 743 meter itu. Adalah Masjid Al-Muhajirin yang berlokasi di Kota Bekasi, tepatnya di perumahan Prima Harapan. Disebut ramah lingkungan, sebab masjid ini memberi prioritas pada Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang luas. RTH itu dibuat bukan hanya di halaman masjid yang membuat suasana menjadi asri, tapi meluas hingga ke lantai atas masjid.

Berkat keberadaan RTH itu, masjid dengan nuansa minimalis tersebut terasa sejuk dan nyaman lantaran didukung oleh suplay oksigen yang memadai. Bahkan, jika Anda menginjakkan kaki di halaman masjid, sensasi dingin ibarat di ruang ber-AC sangat terasa.

Selain ruang terbuka hijau, pengurus Masjid al-Muhajirin juga membangun sebuah kolam dengan ikan hias berwarna warni di sisi kanan masjid. Kolam tersebut didesain sedemikian rupa dengan hiasan air mancur yang menambah kesejukan di sekitar rumah ibadah tersebut. Batu-batu alam dengan sentuhan minimalis berwarna gelap menambah syahdu suasana masjid.

Jangan salah, air kolam ini merupakan buangan air wudhu jamaah masjid. Buangan air wudhu ditampung di kolam resapan sehingga dapat didaur ulang.

“Untuk konsep ini, kami menyebutnya ‘Masjid Ramah Lingkungan’, ujar Haji  Hidayat Widyatmoko, ketua DKM al-Muhajirin kepada Bimasislam. Dengan antusias, Pak Dayat, demikian ia akrab disapa, mengajak Bimasislam berkeliling masjid, menikmati “kesejukan di tengah hari” di rumah ibadah nan asri itu.

Masjid yang Juga Ramah Anak

Selain dikonsep sebagai masjid ramah lingkungan, Masjid Al-Muhajirin, Kota Bekasi, juga diklaim sebagai masjid yang ramah anak. Rupanya, klaim tersebut bukan sebatas jargon. Betapa tidak, saat bimasislam menikmati ibadah Salat Zuhur di Masjid yang berdiri tahun 2000 itu, sejumlah anak kecil, usia TK-SD, terlihat tertib menjalankan ibadah seperti halnya jamaah dewasa.

Mereka mengikuti ibadah dengan tertib dan tenang. Tidak ada kegaduhan seperti halnya sering kita dengar saat salat berjamaah yang diikuti anak-anak. Pengurus masjid pun berbagi tips segar yang bisa ditiru oleh pengurus masjid-masjid lain di tanah air. 

 Awalnya, tutur Pak Dayat, kondisi masjid di komplek itu tak berbeda dengan masjid lain. Anak-anak yang ingin salat berjamaah kerap gaduh dan dianggap mengganggu kekhusyukan salat orang dewasa.

 “Tetapi tentu saja, anak-anak tidak boleh dimarahi saat ingin ibadah di masjid. Semakin sering dimarahi, semakin menjauh mereka dari masjid”, kenangnya.   Tak kehilangan akal, pengurus masjid memutar otak agar anak-anak tetap semangat belajar ibadah di masjid tanpa membuat kegaduhan.

“Caranya sederhana, awalnya kami menjanjikan mereka hadiah. Bagi anak-anak yang shalatnya tertib, akan diberi eskrim atau coklat.”

Hasilnya, anak-anak kompleks tersebut kini terbiasa tertib salat meski tak lagi mendapat hadiah. Usai shalat, nampak sejumlah anak duduk-duduk di halaman masjid sambil mengobrol satu sama lain.

Selain itu, kolam yang dibangun di sisi kanan masjid juga turut berperan merangsang anak-anak untuk rajin ke masjid. “Sebelum mereka shalat, biasanya mereka duduk-duduk di sekitar kolam, melihat ikan hias berwarna warni di sini. Kolam ini jadi salah satu penarik perhatian agar anak-anak rajin ke masjid,” terang Pak Dayat menjelaskan.  

Ketua Rukun Tetangga (RT) kompleks tersebut, Sigit Sugiharto, sangat mengapresiasi terobosan yang dilakukan oleh pengurus DKM. Warga sekitar semakin banyak yang hadir ke masjid, karena pengelolaan dan perawatan masjid yang profesional. Rasa memiliki terhadap masjid pun hadir di hati warga sekitar, sehingga mereka tak sungkan memberi sumbangan untuk mempercantik bangunan masjid.

Misalnya, pembangunan halaman masjid yang tengah berjalan saat ini, didanai secara swadaya dengan skema pembiayaan berupa paket-paket sumbangan senilai Rp 250ribu. Dengan sistem paket, upaya swadaya dari warga sekitar justru melebihi kebutuhan.   Menurut Sigit, program ramah anak tak berhenti dengan pembagian hadiah, ïtu cara untuk mendidik mereka secara perlahan.

Setelah anak-anak dan remaja rajin ke masjid, sejumlah program dakwah pun digulirkan. Di antaranya program tahsin dan tahfidz bagi anak dan remaja tiap Senin, Selasa, dan Rabu. Kajian Remaja Masjid tiap malam Minggu, pawai sepeda, program outbound, lomba mewarnai hingga makan bersama, hingga psantren kilat Ramadhan.  

Bersamaan dengan terobosan di dalam pengelolaan masjid yang profesional itu, sejumlah program rutin bagi jamaah juga digelar pengurus DKM, di antaranya pembagian “Beras Dhuafa” setiap bulan, Pengajian rutin Malam Senin yang dilengkapi dengan hidangan makan, serta program memberi makan ikan bagi seluruh jamaah.  

Selain itu, setiap usai salat Jumat, pengurus masjid juga menyediakan makanan rebusan untuk para jamaah, serta kuis bagi anak-anak.   “Kami berharap kompleks ini tumbuh menjadi kompleks yang religius dan rukun, dengan semangat keagamaan yang mendamaikan.” pungkas Sigit. (fau/bimasislam)


Back to Top