Dihadiri 10 Negara, Temu Bisnis Wisata Halal ke-2 ATHIN dan HTK Sukses Digelar

gomuslim.co.id- Dalam rangka memperkenalkan dan lebih mensosialisasikan konsep Wisata Halal dan Travel Konsorsium, Kementrian Pariwisata (Kemenpar) bekerja sama dengan Halal Travel Konsorsium (HTK) dan Asosiasi Travel Halal Indonesia (ATHIN) kembali menggelar acara Temu Bisnis Wisata Halal yang ke-2. Acara temu bisnis sekaligus buka puasa bersama ini berlangsung di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta Timur pada Sabtu, (10/06/2016).

Para pebisnis wisata halal lokal maupun internasional hadir dalam acara ini untuk melakukan temu bisnis dan memperkuat jejaring, meningkatkan knowledge product serta volume transaksi yang tahun ini diperkirakan mencapai Rp 4 miliar atau naik dua kali lipat dibandingkan pada temu bisnis pertama tahun 2016 lalu.

Ketua Panitia yang juga Founder HTK dan Sekjen ATHIN, Cheriatna mengatakan kehadiran para pebisnis wisata halal dari 10 negara antara lain; ASEAN (Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam) Asia Timur (China, Korea, Jepang), dan Eropa (Turki dan Inggris)  semakin menguatkan posisi Indonesia sebagai destinasi wisata halal (halal tourism) kelas dunia yang belakangan ini menjadi perhatian masyarakat internasional.

“Kunjungan Raja Salman dari Saudi Arabia yang sempat memperpanjang liburannya selama tiga hari di Bali belum lama ini menjadi perhatian masyarakat internasional. Indonesia sebagai destinasi wisata halal kelas dunia semakin banyak diminati para pebisnis wisata halal dari mancanegara,” jelas Cheriatna.

Selain itu, Kemenpar menyambut baik penyelenggaraan temu bisnis wisata halal ke-2 yang dihadiri para bisnis wisata halal dari 10 negara yang notabene sebagai pasar potensial pariwisata Indonesia. Acara temu bisnis tersebut memberikan dampak langsung kedatangan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia yang tahun ini mentargetkan 15 juta wisman, juga sebagai momentum untuk mempromosikan potensi wisata halal di Tanah Air sebagai portofolio pariwisata Indonesia.

Hadir dalam temu bisnis tersebut  antara lain Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Riyanto Sofyan yang pada kesempatan itu memaparkan perkembangan wisata halal di Indonesia yang memiliki tiga portofolio produk yang bisa dikembangkan untuk halal tourism berupa wisata budaya (culture), wisata alam (nature) dan wisata buatan (man–made) serta program percepatan pengembangan destinasi wisata halal di  10 destinasi yakni; Aceh, Sumatera Barat, Lombok, DKI Jakarta, dan Jawa Barat sebagai fokus  utama saat ini  serta Jawa Tengah, Riau, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Acara diisi dengan presentasi beberapa vendor wsiata halal lokal, di antaranya wisata halal Sumatra barat, Lombk, dan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Selanjutnya para vendr wisata halal internasional pun unjuk gigi dengan memperkenalkan potensi wisata halal di negara masing-masing, yang menyatakan siap untuk menjamu turis muslim asal Indonesia. Mereka adalah IslamiChina Travel, Produk ziarah Bumi Para Nabi Middle East vendor, ITM Travel asal Turki, Maleo Travel untuk Jepang dan Korea Selatan, serta go 365 travel untuk tur Eropa.

Lewat acara temu bisnis ini, diharapkan terjalinnya kersama yang saling menguntungkan dan terjadinya peningkatan sales  atau transaksi perusahaan peserta dan juga para peserta mengetahui perkembangan dan kemajuan wisata halal dalam dunia digital marketing.

Untuk diketahui, Indonesia sebagai destinasi halal kelas dunia telah diakui oleh masyarakat internasional yakni dengan diperolehnya 12 dari 16 penghargaan bergengsi pada ajang World Halal Tourism Award (WHTA) 2016 di Abu Dhabi. Kemenangan ini semakin menguatkan unsur 3 C (Calibration, Confidence, dan Credibility) sebagai tolok ukur dalam mengukur kemajuan, kepercayaan diri serta kredibilitas Indonesia menjadi destinasi wisata halal kelas dunia.

Lembaga internasional seperti Crescent-Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) melihat  bahwa prospek wisata halal dunia sangat cerah serta menciptakan peluang yang besar. Dengan populasi penduduk muslim global sebanyak 1,6 miliar dan GDP lebih dari US$ 7 triliun  nilai  konsumsi penduduk muslim mencapai US$ 1,8 triliun atau 11,7% dari konsumsi penduduk dunia. Pertumbuhan pasar muslim diperkirakan mencapai US$ 2,6 triliun pada 2020 atau rata-rata 6,3% per tahun, sedangkan pertumbuhan wisatawan muslim diproyeksikan mencapai 9,1%.

Sementara itu posisi Indonesia tahun 2015, menurut laporan GMTI, berada di peringkat 4 dengan jumlah wisman muslim sebanyak 2,2 juta, sedangkan Malaysia berada di peringkat pertama dengan jumlah wisman muslim 6,18 juta;  Singapura 3,6 juta dan  Thailand 4,8 juta wisman muslim.  Indonesia mentargetkan tahun 2019 berada di peringkat satu GMTI dengan jumlah wisman muslim sebanyak 5 juta  atau sebesar 25% dari target kedatangan 20 juta wisman dan jumlah pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) muslim sebanyak 242 juta. (fau)


Back to Top