Dorong Pertumbuhan Ekonomi Syariah, OJK Luncurkan Roadmap Pengembangan Keuangan Syariah Indonesia 2017-2019

gomuslim.co.id- Upaya mendorong pertumbuhan keuangan syariah terus dilakukan. Terbaru, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan peta jalan (roadmap) pengembangan industri keuangan syariah 2017-2019. Peluncuran roadmap diharapkan dapat meningkatkan pangsa pasar (market share) produk industri keuangan syariah di Indonesia.

Peluncuran ini juga bertujuan untuk mewujudkan industri jasa keuangan syariah yang tumbuh berkelanjutan, serta memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional dan stabilitas sistem keuangan menuju terwujudnya Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dunia.

Acara peluncuran roadmap diawali dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara OJK dengan Forum Rektor Indonesia (FRI). Beberapa waktu yang lalu FRI telah membentuk POKJA Bidang Ekonomi Syariah Forum Rektor Indonesia, sebagai salah satu upaya untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkompeten di bidang ekonomi dan keuangan syariah.

Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK Muliaman Hadad mengatakan roadmap tersebut merupakan langkah menggabungkan substansi dari tiga roadmap yang sudah ada di bidang keuangan syariah yaitu perbankan syariah, pasar modal syariah, dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) syariah.

"Diharapkan dengan adanya roadmap ini market share industri keuangan syariah akan berada di atas lima persen," ujarnya beberapa waktu lalu.

Berdasarkan catatan OJK pangsa pasar keuangan syariah secara keseluruhan berkisar 5 persen per Maret 2017. Namun, apabila dilihat dari setiap jenis produk syariah, hingga triwulan I 2017, terdapat beberapa produk yang pangsa pasar di atas lima persen, antara lain aset perbankan syariah yang mencapai 5,29 persen dari seluruh aset perbankan.

Selain itu, pangsa pasar sukuk negara mencapai 16,45 persen dari total surat berharga negara yang beredar, lembaga pembiayaan syariah sebesar 7,27 persen dari total pembiayaan, lembaga jasa keuangan khusus sebesar 10,11 persen, dan lembaga keuangan mikro syariah sebesar 23,72 persen.

Adapun produk syariah yang pangsa pasarnya masih di bawah lima persen, antara lain sukuk korporasi sebesar 3,77 persen dari seluruh nilai sukuk dan obligasi korporasi, nilai aktiva bersih reksa dana syariah sebesar 4,75 persen dari total nilai aktiva bersih reksa dana, dan asuransi syariah sebesar 3,47 persen.

"Mudah-mudahan industri jasa keuangan syariah menjadi meningkat. Dengan roadmap ini pemahaman masyarakat akan keuangan syariah," katanya.

Selain produk keuangan, saham emiten dan perusahaan publik yang memenuhi kriteria sebagai saham syariah mencapai 54,89 persen dari kapitalisasi pasar saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Terdapat tiga misi yang ingin dicapai dalam penyusunan roadmap ini. Pertama, meningkatkan kapasitas kelembagaan dan ketersediaan produk industri keuangan syariah yang lebih kompetitif dan efisien.

Kedua, memperluas akses terhadap produk dan layanan keuangan syariah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, di antaranya dengan memanfaatkan fintech. Ketiga, meningkatkan inklusi produk keuangan syariah dan koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memperbesar pangsa pasar keuangan syariah.

“Tiga misi pokok ini merupakan isu bersifat cross sectoral baik bank, pasar modal, dan IKNB.  Diharapkan bisa meningkatkan sinergi dan kerja sama karena layanan keuangan tidak bisa dilihat secara terpisah,” tambah Muliaman.

“Para pemangku kepentingan yaitu regulator, pemerintah, industri, dan para pihak terkait harus bersinergi menyusun dan melaksanakan program pengembangan keuangan syariah agar dapat berkompetisi secara sehat dengan keuangan konvensional, bahkan dapat bersaing di industri keuangan syariah global," tutupnya. (njs/ojk/dbs)


Back to Top