Lazismu Gelar Program Maarif Fellowship Bertema Filantropi Islam

gomuslim.co.id-  Bersinergi bersama Lazismu, Maarif Institut mengundang mahasiswa S1 serta sarjana fresh graduate untuk mengikuti program Maarif Fellowship (MAF) 2017. Program ini bertujuan mengkaderisasi intelektual kaum muda untuk menghasilkan peneliti muda yang kritis.

Peneliti yang dapat berkontribusi mencari jawaban terhadap berbagai persoalan sosial keagamaan yang terjadi di tanah air. Direktur Eksekutif Maarif Institut, Muhammad Abdullah Darraz mengemukakan, program MAF sudah digelar dua kali, di tahun 2013 dan 2015.

Tahun ini mengangkat tema “Filantropi Islam, Penanggulangan Terorisme, dan Keadilan Sosial”, diharapkan para peserta dapat memetakan dan menemukan informasi sejauh mana peran lembaga filantropi Islam menanggulangi masalah terorisme dan radikalisme.

“Diharapkan dari hasil riset peserta nanti kita akan menemukan jawaban, salah satu poin misal apakah dana-dana dari masyarakat yang disalurkan melalui lembaga filantropi dapat melawan atau justru mendukung gerak radikalisme,” terang Abdullah saat jumpa pers di kantornya, Tebet Barat Dalam II, Jakarta Selatan, Selasa (13/06/2017).

Filantropi dalam khazanah Islam merupakan salah satu upaya menjawab tantangan dan masalah sosial kemasyarakatan. Mulai dari zakat, infak, sedekah, hingga wakaf.

Suburnya kegiatan dan kesadaran filantropi tidak terlepas dari fakta sosiologis bahwa masyarakat Indonesia memiliki rasa solidaritas dan kedermawanan tinggi.

Riset yang dilakukan Crisis Group Asia (2011) mengungkap peningkatan jumlah lembaga filantropi seharusnya memiliki peranan khusus pada upaya penanggulangan radikalisme dan terorisme.

Lebih detail dijabarkan, peran zakat yang efektif dan program bantuan kemanusiaan dapat dijadikan sebagai langkah preventif untuk menanggulangi terorisme di komunitas yang rentan kemiskinan, keadilan sosial, atau karena ada bencana.

Direktur Lazismu, Andar Nubowo dalam kesempatan yang sama menuturkan dalam merancang program-program, Lazismu mengacu pada Alquran yang jelas merinci siapa saja yang berhak atas ZIS, yang kemudian diterjemahkan secara kontekstual dengan isu-isu nasional maupun internasional berkaitan dengan mereka yang berhak atas ZIS tersebut.

Adapun sebagai upaya merespon isu-isu internasional, Lazismu mengacu pada 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yang salah satunya berisi perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang kuat.

Keaktifan Lazismu dalam menegakkan keadilan dan pemberdayaan umat, mendorong Lazismu ikut mendukung Maarif Institut dalam program MAF.

Andar menegaskan keterlibatan Lazismu dalam MAF berharap peserta mampu memetakan penanganan radikalisme dengan mementingkan aspek-aspek sosial.

“Lazismu sebagai lembaga amil zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar mendistribusikan bantuan dari muzaki. Namun berkomitmen bahwa dana yang diberikan muzaki untuk disalurkan kepada yang membutuhkan harus berdampak baik atau dirasakan manfaatnya,” terangnya.

Terkait pendaftaran, MAF telah dibuka pada 13 Juni hingga14 Agustus 2017. Peserta yang terpilih dalam program ini akan memperoleh insentif berupa dana riset sebesar Rp 12 juta, living cost selama orientasi di Maarif Institut, dan karya tulisnya diterbitkan.

Adapun, para dewan juri dalam kegiatan ini diantaranya Hilman Latief, Ph.D. (Ketua Badan Pengurus Lazismu), Lies Marcoes, MA (Aktifis Perempuan/Rumah Kitab), Muhammad Najib Azca, Ph.D. (Akademisi UGM), Ninuk Mardiana Pambudi (Jurnalis Senior) dan Taufik Andrie (Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian). (fau/lazismu)


Back to Top