OJK Optimis Aset Bank Syariah Tahun Ini Bakal Tumbuh Tinggi

gomuslim.co.id- Industri perbankan syariah di Tanah Air terus mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini seiring dengan sejumlah upaya yang telah dilakukan untuk membesarkan diri di tengah perlambatan pertumbuhan industri perbankan.

Bank syariah diprediksikan mampu melalui tahun ini dengan pertumbuhan dobel digit. Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan ( OJK), aset perbankan syariah mencapai Rp 372,28 triliun per April 2017. Aset ini tumbuh 22,69 persen secara tahunan atau tumbuh tertinggi sejak 2014.

Pertumbuhan aset tertinggi terjadi pada bank umum syariah (BUS) sebesar 23,39 persen per April 2017. Sedangkan unit usaha syariah (UUS) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) masing-masing sebesar 21,98 persen dan 16,42 persen.

Dari sisi pembiayaan, bank syariah menyalurkan Rp 259,47 triliun atau tumbuh 17,70%. Angka ini dua kali lipat ketimbang industri perbankan yang tumbuh 9,4 persen. Tak cuma itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih tinggi atau sebesar 24,78 persen di April 2017. Tapi, bank syariah menghadapi kenaikan rasio pembiayaan bermasalah (NPF). Per April, NPF gross mencapai 4,43 persen, naik dari 4,15 persen di akhir 2016.

Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Sukro memprediksi, perbankan syariah sanggup membukukan pertumbuhan aset sebesar 14 persen sampai 15 persen hingga akhir 2017. "Momentum pertumbuhan syariah belum hilang meski NPF tinggi," ujar Sukro, akhir pekan lalu.

Sukro bilang, OJK meminta bank syariah menambah pencadangan dan mendongkrak pembiayaan berkualitas agar untuk menekan NPF. OJK pun mengkaji insentif agar bank syariah terus tumbuh. "OJK usulkan ada potongan tarif IPO untuk lembaga keuangan syariah," kata Fadilah Kartikasasi, Direktur Pasar Modal Syariah OJK.

OJK mendorong bank untuk mempercepat proses spin off dan memperkuat modal lewat penerbitan sukuk, penawaran saham perdana (IPO) dan mencari investor strategis.

Selain itu, OJK juga meminta industri perbankan syariah terus memperbanyak produknya sehingga setara dengan layanan perbankan konvensional. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan melayani keuangan digital untuk menarik minat masyarakat dan pengembangan bisnis syariah di wisata halal.

Kelompok Pengawas Spesialis Teknologi Informasi Departemen Perbankan Syariah OJK, Bayu Endrasasana, ‎mengatakan, dalam industri perbankan terdapat empat kategori namun perbankan syariah baru masuk dalam fase kategori dua.

Menurut dia, perbankan syariah yang sudah masuk pada kategori dua, maka dapat melakukan kegiatan bisnis dengan layanan internet banking. Selain itu, dalam pengembangan bisnis, perbankan syariah bisa mengoptimalkan sektor halal.

"Belum ada satu pun perbankan syariah masuk ke kategori tiga, kalau sudah kategori tiga, maka perbankan syariah bisa melakukan one stop shopping (produknya tidak terbatas)," kata Bayu dalam seminar Menuju Industri Keuangan Syariah yang Berkelanjutan di Era Digital, di Jakarta.

Dia menambahan, meski potensi pasar perbankan syariah sangat besar di Indonesia tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Saat ini pangsa pasar perbankan syariah baru mencapai 5,1 persen dari total keseluruhan industri perbankan di Indonesia. (njs/ojk/dbs)


Back to Top