Ini Putra Mahkota Baru di Kerajaan Saudi

gomuslim.co.id- Keputusan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulazis al Saud mengangkat anaknya Mohammed bin Salman sudah bulat untuk menjadikannya sebagai putra mahkota dan memecat putra mahkota sebelumnya Mohammed bin Naif yang merupakan keponakannya. Adanya reshuffle besar ini dinyatakan pada, Rabu (21/06/2017).

Pergantian jabatan ini didukung oleh 31 dari 34 anggota Dewan Kepatuhan. Seperti yang diinformasikan dari kantor berita resmi Saudi Press Agency (SPA) Press, yang dilansir dari publikasi Aljazirah, putra mahkota yang baru itu sekaligus ditunjuk sebagai wakil perdana menteri dan mempertahankan jabatan sebelumnya sebagai menteri pertahanan guna mempertahankan portofolio pertahanan, minyak dan lainnya.

Dewan tersebut terdiri dari anggota senior keluarga Al Saud yang berkuasa. Raja Saudi meminta sebuah janji publik untuk kesetiaan kepada putra mahkota, pada Rabu pagi. Sedangkan Mohammed bin Naif segera bersumpah setia kepada pengantinya setelah keputusan tersebut.

Kemudian, mantan putra mahkota itu juga dipecat dari jabatannya sebagai menteri dalam negeri. “Perintah kerajaan: Menghapuskan Pangeran Mohammed bin Naif bin Abdulaziz Al Saud dari jabatannya sebagai Putra Mahkota, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri,” demikian yang dituliskan dalam akun Twitter SPA @SPAENG. 

Sementara itu, putra Mahkota Mohammed bin Naif merupakan kepala kontra-terorisme yang dikagumi di Washington, karena telah menjatuhkan kampanye pemberontakan Alqaidah pada 2003-2006, dilucuti dari semua posisi.

Sebagai wakil putra mahkota, Mohammed bin Salman telah bertanggung dalam menjalankan perang Arab Saudi di Yaman, mengatur kebijakan energi dengan implikasi global dan mempelopori rencana kerajaan untuk membangun masa depan ekonomi selain minyak.

Ditinjau dari analis keuangan bahwa promosi Pangeran Mohammed memberikan kepastian lebih jauh mengenai kunci penting dari reformasi radikal untuk mendiversifikasi ekonomi Saudi selain minyak akan berlanjut.

"Kami tidak berharap melihat perubahan besar pada bidang kebijakan utama, termasuk ekonomi," ujar Kepala Ekonom di Abu Dhabi Commercial Bank, Monica Malik.

Tahun lalu, Mohammed bin Salman mengumumkan perubahan yang bertujuan untuk mengakhiri ketergantungan kerajaan terhadap minyak. Ini merupakan bagian dari kampanyenya untuk mengatasi tantangan sistemik yang sebelumnya tidak dapat ditangani kerajaan tersebut.

Beberapa pengamat kerajaan telah lama menduga bahwa Mohammed bin Salman segera naik ke tahta kekuasaan di bawah pemerintahan ayahnya. Dan ini juga memungkinkan untuk mempercepat kenaikan takhtanya. Pangeran muda itu kurang dikenal rakyat Saudi dan orang luar sebelum Salman menjadi raja pada bulan Januari 2015. Dia sebelumnya bertugas di istana ayahnya ketika Salman sebagai putra mahkota.

Meskipun promosi Mohammed bin Salman diharapkan di kalangan terdekat, langkah ini tetap mengejutkan seiring kerajaan tersebut menghadapi ketegangan yang meningkat dengan Qatar dan Iran dan terkunci dalam perang di Yaman.

"Ini jelas sebuah transisi yang telah terjadi dengan lancar dan tanpa darah. Sekarang sudah jelas, ini sangat jelas. Kejelasan semacam itu menurunkan risikonya, tidak ada pertanyaan mengenai siapa yang akan bertanggung jawab," terang profesor studi Timur Dekat di Princeton Nernard Haykel.

"Beberapa orang memprediksi bahwa ini akan menyebabkan perpecahan dalam keluarga dan perselisihan dan semacam pemberontakan. Saya tidak melihat itu terjadi," kata dia.

Seorang pejabat senior Saudi mengatakan keputusan tersebut diambil karena apa yang dia sebut sebagai keadaan khusus yang disampaikan kepada anggota Dewan Kepatuhan. Dia menambahkan bahwa Mohammed bin Naif mendukung keputusan tersebut dalam sebuah surat yang dikirim kepada raja.

Keputusan kerajaan tersebut tidak mencalonkan seorang putra mahkota baru. “Posisi ini relatif baru di Arab Saudi, di mana seorang raja secara tradisional memilih penerusnya sendiri,” pungkasnya. (nat/dbs)

 


Back to Top