Panitia Haji Universitas Thayyibah Dampingi Rombongan Indonesia Berkeliling Tempat Bersejarah di Madinah

gomuslim.co.id – Panitia haji dari Universitas Thayyibah, Madinah, mengajak rombongan petugas haji Indonesia mengelilingi tempat bersejarah dan situs arkeologi di Madinah. Rombongan petugas haji Indonesia mengunjungi wilayah Sayed Al Shuhada, seperti diberitakan Saudi Press Agency, Kamis (10/08/2017).  

Sayed Al Shuhada merupakan nama wilayah yang terletak di sebelah utara kota Madinah. Jarak tempuh kota Madinah menuju wilayah yang terletak di kaki gunung Uhud ini mencapai sekitar empat kilometer. Selain itu, nama Sayed Al Shuhada merupakan julukan paman Nabi, Hamzah, yang menjadi salah satu korban yang wafat saat perang Uhud berkecamuk.

Wilayah yang dipadati sekitar 15 ribu penduduk ini memiliki masjid jami yang bernama Masjid Sayed Al Shuhada. Masjid yang mulai dibangun pada 2012 ini menelan biaya sekitar 42 juta Riyal Saudi. Masjid yang berkapasitas 15 ribu orang ini merupakan masjid terbesar kedua di Madinah setelah Masjid Nabawi.

Selain itu, rombongan petugas haji Indonesia juga berkesempatan mengunjungi tempat terjadinya perang Uhud yang tidak jauh dari sekitar gunung Uhud. Destinasi kunjungan lain rombongan petugas haji Indonesia adalah tempat terjadinya perang Ahzab atau perang Khandaq.  

Ketua Panitia Haji Universitas Thayyibah Doktor Ahmed al-Shabi juga mengajak rombongan petugas haji Indonesia mengunjungi Sumur Utsman. Menurut catatan sejarah, sahabat muhajirin yang hijrah dari Mekah ke Madinah merasa kesulitan mendapatkan air. Saat itu, satu-satunya mata air yang cukup memadai adalah mata air milik sahabat Rumah al-Ghifari.

Namun demikian, Rumah al-Ghifari tidak bisa menggratiskan sumur miliknya itu kepada setiap sahabat. Hal ini karena sumur tersebut satu-satunya sumber penghasilan Rumah al-Ghifari. Ia terpaksa mematok harga setiap kali ada sahabat yang menginginkan air tersebut.

Atas saran dan motivasi Rasulullah, Sahabat Utsman yang terkenal kaya itu membeli sumber mata air itu seharga 35 ribu dirham. Demi kepentingan banyak orang, sumur ini pun lantas diwakafkan untuk umum oleh  Sahabat Utsman. Sumur ini sekarang dimanfaatkan Kementerian Pertanian Arab Saudi untuk mengairi perkebunan di sekitarnya.

“Kami menjelaskan semua peninggalan sejarah Islam dan situs arkeologi yang berkaitan dengan sejarah Nabi di masa silam kepada rombongan Indonesia,” pungkas Doktor Ahmed al-Shabi yang juga seorang peneliti sejarah. (ihs/dbs/foto:saudi press agency)


Back to Top