Datangkan Guru dari Finlandia, Kemenag Perkuat Pendidikan Madrasah Berbasis ICT

gomuslim.co.id- Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan di Madrasah. Baru-baru ini, Direktorat PAI menggelar kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru dan Pengawas PAI dalam bidang Information and Communication Technology (ICT).

Pada kesempatan tersebut, Kemenag mendatangkan Direktur Lifelearn Academy Indonesia, Allan Schneitz. Kehadiran Allan dimaksudkan untuk berbagi pengetahuan tentang pendidikan di Finlandia bersama 50 guru Agama yang tergabung dalam Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII).

Menurut Direktur Pendidikan Agama Islam, Imam Safei, penguatan kompetensi bidang ICT ini penting sebagai upaya pengayaan pembelajaran PAI. Selain itu, Imam juga mengatakan peran guru agama sangat penting untuk membentengi siswa-siswi dari pengaruh negatif penggunaan media saat ini.

Dalam pemaparannya, Allan Schneitz menjelaskan bahwa Finlandia memiliki banyak orang professional dalam bidang-bidang tertentu sehingga mereka digunakan untuk mengembangkan pendidikan. “Di Finlandia kami memiliki banyak professional yang kami manfaatkan untuk meningkatkan kualitas sekolah di sana,” tutur Adriyanto selaku penerjemah Allan Schneitz beberapa waktu lalu.

Selain itu, Allan juga memaparkan tentang tantangan dunia ke depan. Menurutnya, berdasarkan laporan forum ekonomi dunia (world economic forum), pada tahun 2020 terdapat 10 kemampuan yang perlu dilatih kepada siswa, yaitu: Complex Problem Solving, Critical Thinking, Creativity, People Management, Coordinating with Others, Emotional Inteligence, Judgement and Decision Making, Service Orientation, Negotiation, dan Cognitive Flexibility.

Menurutnya, untuk menghadapi tantangan ke depan, sistem pembelajaran berbasis 4 C yaitu Communication, Collaboration, Critical Thinking, dan Creativity, dapat mengatasinya. “Di usia anak saya 2 tahun, Emil, dia memiliki sense manipulation di mana dia akan melakukan apapun, suka mengigit dan lainnya, dia telah memiliki critical thinking yang baik,” tutur Allan.

Pendidikan Finlandia juga mengajarkan pengetahuan teknologi yang didukung oleh professor ahli. Menurutnya, kawasan Asia memiliki potensi untuk mengembangkan teknologi yang canggih. “Di sana juga ada kelas-kelas robotik yang didukung oleh professor sehingga mereka bisa bersaing dengan kawasan Asia yang mahir dalam robotic,” jelas dia.

Teknologi juga tidak sepenuhnya digunakan dalam ruang kelas dalam pembelajaran. Allan mengingatkan bahwa seorang guru juga harus memperhatikan apa yang dibutuhkan dalam pembelajaran.

“Saya adalah orang yang sangat sederhana. Ketika berbicara tentang tekhnologi yang aspeknya luas maka kita butuh fokus terhadap hal-hal yang kita butuhkan. Guru membutuhkan laptop dan projector adalah hal yang biasa. Ketika kita tidak bisa terhubung dengan wi-fi maka kita tidak bisa melakukan apapun. berbicara tentang ICT maka kita perlu memikirkan apa yang siswa butuhkan,” sambung Allan. 

Di samping itu juga, Allan menjelaskan bahwa Finlandia menerapkan pendidikan yang langsung dilakukan siswa. Mereka meninggalkan penggunaan laptop dan lebih sering melakukan aktifitas langsung seperti mencatat dan mempresentasikan hasil kegiatan.

Namun, melihat perkembangan teknologi saat ini yang lebih dominan pada penggunaan handphone, Allan juga mengenalkan bagaimana memanfaatkan pembelajaran dengan handphone tersebut. Dalam kesempatan ini, ia mengenalkan aplikasi belajar lifelearn yang dapat diunduh dan diakses dimanapun sehingga guru bisa saling berbagi dan siswa bisa saling belajar bersama. (njs/kemenag)

 


Back to Top