Begini Kisah Striker Timnas U-19 Jebolan Liga Santri Nusantara Raih Prestasi

gomuslim.co.id- Tiga tahun bergulir, Liga Santri Nusantra (LSN) kini mulai melahirkan bibit pesepakbola unggul. Perhelatan yang sudah ada sejak 2015 itu telah wadah pembinaan atlet-atlet muda dari pesantren yang berpotensi meraih prestasi di masa depan. Salah satu jebolan LSN yang paling dikenal baru-baru ini adalah Muhammad Rafli Mursalim.

Striker Timnas U-19 yang berlaga di Myanmar bulan lalu ini adalah seorang santri di Pesantren Al Asy’ariyah, Tangerang. Rafli memutuskan belajar dan memperdalam ilmu agama di pesantren tersebut sejak dua tahun terakhir.

Ada banyak alasan yang membuat Rafli memutuskan menghabiskan masa-masa remajanya di pesantren. Selain orang tua, Rizal Kulle dan Rita Anggraini, yang memutuskan berpisah, sepak bola tanah air yang kala itu sempat dibekukan FIFA juga menjadi penyebab. Padahal, saat itu Rafli sedang semangat-semangatnya belajar sepak bola di SSB Villa 2000 Jakarta.

”Saat itu hidup saya terasa sangat hampa. Jadi, keinginan kuat untuk belajar agama pun muncul dari dalam hati. Jadi, pas ada teman yang ngajak mondok untuk memperdalam ilmu agama di pesantren, saya langsung iyakan saja,” ujar pencetak gol terbanyak di LSN 2016 kepada Indopos beberapa waktu lalu.

Rafli sendiri direkomendasikan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi kepada pelatih Indra Sjafri yang waktu itu sedang mencari pemain untuk berlaga di Piala AFF U-19 di Myanmar September lalu.  

Rekomendasi ini tentu saja beralasan, mengingat Rafli dan kawan-kawan berhasil lolos ke babak semifinal LSN 2016 dan akhirnya membawa pulang peringkat ketiga. Rafli yang sudah berpengalaman menimba ilmu di SSB Villa 2000 sejak berusia lima tahun itu juga sukses menyabet gelar individu dengan menjadi pencetak gol terbanyak dengan 15 gol.

”Karena saya menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Santri dan usia saya masih cukup, saya disuruh ikut seleksi oleh Pak Menteri. Dan alhamdulillah, berkat doa dan kerja keras, saya berhasil lolos seleksi. Tapi, saya belum puas sampai di sini. Karena saya ingin bermain di timnas senior dan klub besar tanah air,” harap fans berat Manchester United itu.

Rafli menuturkan untuk menjadi pemain bola profesional adalah melanjutkan cita-cita lama ayahnya yang tertunda. Meski begitu, dia tetap merasa menjadi santri di pesantren. Saat masih muda, Rizal, ayah Rafli, adalah pemain PSM Makassar Junior dan beberapa kali mengikuti seleksi Timnas meski gagal.

Sebab itu, saat menyaksikan Rafli membela tim Garuda Nusantara di Piala AFF U-19 di Myanmar beberapa pekan lalu, ayahnya sangat senang bercampur haru. Apalagi, dalam event tersebut, pengagum striker Barcelona Luis Suarez itu berhasil menyumbangkan enam gol bagi Timnas U-19.

Tak pelak, saat kembali dari Myanmar, sang ayah langsung menyiapkan pesta di rumah untuk menyambut sang ”pahlawan keluarga” tersebut. Para teman sesama mantan pemain, keluarga, dan tetangga diundang. ”Rumah jadi penuh terus oleh tamu. Banyak yang berdatangan kasih selamat,” ujar Rafli yang ngebet bermain di Persija dan PSM Makassar itu.

Dukungan lain pun didapat pria kelahiran Jakarta, 3 Maret 1999 itu dari pesantren. Ia mengaku, dari pesantren itulah jalan hidupnya semakin terbuka. Hatinya yang dulu bimbang dalam pencarian jati diri mulai lebih tenang dalam mengarungi hidup. ”Dulu sebelum ke pesantren saya gampang emosi. Alhamdulillah, saat ini semua mulai berubah,” ungkap Rafli.

Apalagi, selain memperdalam ilmu agama, pesantren yang memiliki 150 santri dari berbagi pelosok nusantara itu juga sangat mendukung karirnya sebagai pemain bola. Sebab, sang kiai, Mahrusillah, juga memiliki hobi bola.

Bila ada waktu luang, Kiai Mahrus, sapaan akrab sang kiai, mengajak santrinya bermain bola di lapangan kecamatan. Tiga kali dalam sepekan. Berkat sering latihan bareng yang berawal dari hobi tersebut, mereka berhasil melambungkan nama pesantren yang didirikan almarhum KH Ahmad Syukri Asy’ari pada 1967 itu. (njs/indopos/dbs/foto:nu)

 

 


Back to Top