Wakaf Ventura Tanah Air Bisa Lahirkan Wirausahawan Muslim

gomuslim.co.id- Potensi wakaf di Tanah Air sangat besar untuk terus berkembang. Jika dimanfaatkan untuk hal-hal produktif, wakaf memberikan dampak positif untuk pembangunan ekonomi nasional. Terlebih lagi, wakaf ventura yang kini mulai muncul diharapkan mampu menambah wirausahawan muslim.

Demikian disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro baru-baru ini. Menurut Bambang, selama ini masyarakat lebih mengenal wakaf aset. Sementara, wakaf tunai hingga saat ini jumlahnya baru puluhan miliar. “Jumlah itu kecil sekali. Padahal, potensinya itu bisa sangat besar," ujarnya.

Ia menuturkan wakaf aset perlu diarahkan untuk menjadi lebih produktif. Sebagai contoh, beberapa negara Timur Tengah sudah banyak yang mengembangkan wakaf asset ini. Hal itu kemudian berkembang menjadi rumah sakit atau pusat pertokoan. "Pada akhirnya, wakaf aset itu bisa mengembangkan umat sekitarnya dibandingkan hanya dibiarkan menjadi tanah saja," kata dia.

Lebih lanjut, Bambang mengungkapkan, saat ini konsep wakaf ventura masih terus dibicarakan. Secara umum konsep modal ventura sangat dekat dengan keuangan syariah. "Karena bentuknya bukan pinjaman dengan bunga tapi berupa penyertaan modal. Jadi berbagi risiko, berbagi hasil," jelasnya.

Bambang berharap, ventura syariah bisa membuat wakaf tunai maupun wakaf aset menjadi lebih produktif. Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam itu menilai, hasil pengelolaan wakaf bisa menambah wirausahawan terutama UKM muslim. "Mereka kan perlu dana awal dan tidak mudah mendapatkannya dari bank atau lembaga keuangan lain. Wakaf ventura bisa kita arahkan ke sana," tuturnya.

Disisi lain, pengembangan tanah-tanah wakaf hingga saat ini masih kendala pada pendataan yang belum terkoordinasi. Tercatat, sekitar 350 ribu hektare tanah pada 350 ribu titik belum sepenuhnya terdaya dengan benar.

Humas Badan Wakaf Indonesia (BWI) Nurkaib, mengatakan, wakaf selama ini sudah berjalan, hanya saja kendalanya ada pada pendataan. "Kita wakaf yang sudah berjalan, wakaf tanah dan wakaf uang," katanya.

Menurut Nurkaid, wakaf tanah itu bukan potensi lagi, tetapi memang sudah ada. Hanya saja banyak bidang tanah yang kendalanya tidak kelihatan ke permukaan. Salah satunya tanah-tanah wakaf tersebut sudah ada peruntukannya masing-masing.

"Tanah-tanah itu diwakafkan untuk sosial, untuk masjid, untuk madrasah, kemudian data kemanfaatannya itu belum ada sampai sekarang. Artinya, kita tidak bisa bicara kalau tidak ada datanya," ujar dia.

Nurbaik mengibaratkan istilah dalam keuangan, ketika tidak ada data, maka tidak bisa mengatakan untuk apa sumbangsih wakaf itu dalam pengentasan kemiskinan, sehingga berapa jumlahnya tidak tahu pasti angkanya.

Sumbangsih wakaf di bidang pendidikan, merupakan bidang paling banyak dimanfaatkan dari tanah wakaf. Karena jika tidak begitu, pemerintah tidak sanggup untuk menyediakan sekolah-sekolah dasar sendiri. "Nah datanya itu tidak ada, jadi tidak bisa bicara dulu," tutur Nurbaik.

Data yang ada pada BWI, sekitar 350 ribu titik yang luasnya 350 ribu hektare se-Indonesia sudah ada data manualnya. Jadi, untuk tanah wakaf, pertama daftarnya di KUA. Kemudian dari data KUA di kompilasi ke Kemenag. Tetapi hingga saat ini, data lengkapnya belum ada, dalam arti hitung-hitungan ekonominya itu belum ada.

Kemudian dari data Kemenag itu, sebagian besar tanah wakaf oleh wakafnya memang ditujukan untuk kegiatan sosial. Untuk dirikan masjid, dirikan sekolah, dirikan mushala, dan untuk pemakaman. (njs/dbs)

 


Back to Top