Bank Dunia Apresiasi Malaysia Terkait Inovasi Surat Utang Syariah

gomuslim.co.id- Malaysia menjadi Negara pelopor dalam merilis surat utang syariah sukuk hijau (green sukuk). Pendekatan inovatif ini pun mendapat respon positif dari bank dunia. Pasalnya, instrument keuangan syariah bernama sukuk hijau ini fokus teradap pembiayaan-pembiayaan yang sifatnya bertanggungjawab terhadap lingkungan.

Menurut Ketua Komite Sekuritas Malaysia, Ranjit Ajit, sukuk hijau ini dibangun berdasarkan karakteristis pembiayaan sesuai syariah sebagai instrumen pembiayaan yang bertanggung jawab secara sosial dan etis. Selain itu, produk keuangan syariah ini menyasar kepada proyek-proyek yang ramah lingkungan, energi baru terbarukan, dan perubahan iklim.

Ia menjelaskan bahwa instrumen keuangan syariah ini bisa meningkatkan minat keuangan global karena sesuai untuk mendanani proyek infrastruktur yang ramah lingkungan. Misalnya, hasil sukuk bisa digunakan untuk membiayai kembali utang konstruksi dan mendanani subsidi lingkungan yang diberikan pemerintah.

“Kami percaya ada peluang signifikan yang timbul dari minat global yang kuat terhadap pembiayaan hijau di mana instrumen penggalangan dana inovatif seperti sukuk hijau merupakan solusi tepat untuk memenuhi kebutuhan global dan bentuk lain pembiayaan berkelanjutan dan bertanggung jawab,” kata Ranjit Ajit seperti dilansir dari publikasi Gulf Times, Jumat, (06/10/2017).  

“Peluang sukuk ini sangat besar karena mencakup bermacam-macam, seperti biogas, pembangkit listrik tenaga angin, dan mobil listrik," tambahnya.

Komisi Sekuritas Malaysia sendiri telah menerbitkan kerangka sukuk investasi untuk lingkungan berkelanjutan pada tahun 2014. Aturan ini menetapkan hasil sukuk harus digunakan untuk pelestarian lingkungan dan sumber daya alam, menghemat penggunaan energi, mempromosikan teknologi terbarukan, dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Pada tahun 2017, perusahaan tenaga surya Malaysia, Tadau Energy, menerbitkan sukuk hijau dan meraup dana segar 250 juta ringgit (Rp796,95 miliar) dari investor.

Di sisi lain, Bank Negara Malaysia (BNM) menyatakan akan fokus pada pertumbuhan industri keuangan syariah yang berkualitas. Mereka merancang pendekatan bersama industri agar tujuan itu tercapai.

Menurut Asisten Gubernur BNM Marzunisham Omar, BNM melihat masa arah keuangan Islam saat ini menuju pada pertumbuhan berkualitas. Berdasarkan itu, bank dan asuransi juga akan melihat nilai yang bisa mereka ciptakan dan dampaknya berdasarkan kegiatan usaha berkelanjutan.

Pada Juli lalu, BNM sudah meluncurkan Intermediasi Berbasis Nilai (VBI) yang merupakan strategi pengembangan lembaga keuangan syariah di Malaysia. “Tujunnya adalah untuk menciptakan nilai dan dampak aktivitas lembaga keuangan bagi sektor riil, masyarakat, dan lingkungan dibanding sekadar tujuan bisnis jangka pendek,” katanya.

Dengan mengadopsi VBI, Marzunisham menilai industri keuangan syariah Malaysia akan menempatkan nasabah di depan. Mereka akan mengubah pendekatan dan pengelolaan nasabah mereka dari sebelumnya sekadar mendorong penerimaan produk.

Ia menekankan, VBI bukalah program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), tapi strategi lembaga keuangan untuk memacu pertumbuhan yang berkelanjutan. VBI sendiri bukan syarat regulasi melainkan kerja kolabolatif antara bank sentral dengan lembaga keuangan syariah.

BNM bersama industri juga sedang menyiapkan indikator kesuksesan lembaga keuangan syariah. VBI menempatkan tujuan syariah di tempat pertama. ''Untuk aspek ketaatan syariah, kami tidak akan berkompromi untuk itu,'' tutupnya. (njs/gulftimes/dbs/foto:syariahfinance)


Back to Top