Ini Pesan Dirjen Pendis Kemenag kepada Guru Madrasah

gomuslim.co.id- Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agana, Kamaruddin Amin mengatakan bahwa saat ini guru madrasah saat ini dihadapkan pada tantangan kepercayaan diri untuk menulis. Menurutnya, sejauh ini, guru kurang mengaktualisasikan dirinya dengan menulis dari apa yang dialami, dilakukan dan diajarkan.

“Guru-guru kita masih belum percaya diri untuk menulis. Maka dari itu, saya berharap ke depan, guru harus mampu merefleksikan pengalaman otentiknya dengan menulis, supaya dirujuk dan menjadi referensi dalam dunia  pendidikan,” ujar Dirjen saat membuka kegiatan Penyusunan Kisi-Kisi Ujian Madrasah di Bogor, Minggu (05/10/2017).

Ia mengilustrasikan tentang bagaimana pendidikan di Finlandia bisa lebih maju. Menurutnya, guru-guru madrasah pun bisa belajar dari mereka yang mengaktualisasikan diri dengan menulis dan berinteraksi dengan masyarakat. 

“Padahal aktualisasi diri guru-guru madrasah di Indonesia lebih luas dan lebih mudah. Karena dalam persepsi masyarakat, guru madrasah berkait langsung maupun tidak langsung dengan kehidupan beragama di masyarakatnya. Inilah tantangan guru kita,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Kamaruddin juga menuturkan bahwa guru madrasah harus menjadi rujukan masyarakat dalam kehidupan beragama, menjadi teladan dalam perilaku, referensi dan tempat bertanya bagi masyarakat.

“Untuk itu guru tidak boleh berhenti belajar. Ilmunya harus didialogkan dengan realitas yang ada di masyarakat. Guru harus beraktualisasi dan berinteraksi dengan realitas yang berkembang di masyarakat,” pesannya.

Ia menjelaskan, kualitas madrasah akan meningkat melalui setidaknya dua hal; pertama, kemampuan madrasah memproduksi lulusan yang cerdas dan berakhlak mulia. Kedua, guru yang mampu berinteraksi dengan perkembangan masyarakat.

“Untuk itulah guru harus serius dan sungguh-sungguh mendidik siswanya secara profesional. Guru harus senantiasa mengembangkan kapasitas diri. Guru akan selalu dikenal dan diingat karena karyanya, yaitu karya menyiapkan peserta didik yang cerdas dan berakhlak serta karya tulisan yang berbasis pengalaman sebagai refleksi,” tandasnya. (njs/kemenag/dbs/foto:wikidpr)

 


Back to Top