Dirjen Pendis Kemenag : Standardisasi Pesantren untuk Penyetaraan Kualitas Pengasuh Ponpes

gomuslim.co.id- Guna mendorong terwujudnya standar penyelenggaraan pendidikan minimum di lingkungan pesantren, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin menegaskan program standardisasi pondok pesantren bukan upaya penyeragaman melainkan untuk mendorong program tersebut.

Hal itu disampaikan Kamaruddin di sela-sela jumpa pers Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) VIII bertema "Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan" di Kemenag, Jakarta, Jumat (06/10/2017).

“Jadi bukan menyamakan lewat standardisasi karena setiap pesantren memiliki kekhasannya masing-masing,” ujar Kamaruddin.

Kendati ada standardisasi, lanjut Kamaruddin, Ditjen Pendis Islam Kemenag membiarkan keberagaman kurikulum pondok pesantren yang khas.

“Standar paling awal yang bisa dimulai yakni dengan mengidentifikasi dan membuat standar minimal kitab yang dipelajari di pondok pesantren. Perkembangan terkini pembuatan standar itu sudah memasuki tahap akhir dan jika sudah selesai targetnya pada akhir tahun sudah dapat diterapkan,” paparnya.

Sementara itu, jika tahapan sudah selesai, maka sejumlah pesantren akan menggunakan kitab yang sesuai standar dengan dasar pijakan surat imbauan dalam bentuk Peraturan Menteri Agama (PMA) atau minimal Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam.

Pihaknya memastikan pemerintah tidak akan lepas tangan begitu saja dengan peraturan tersebut melainkan akan tetap melakukan pendampingan terhadap pesantren terkait kitab standar minimal bagi pesantren.

Meski demikian, pengelola pondok pesantren tetap memiliki keleluasaan mengelola kurikulumnya dengan tetap mengajarkan kitab di luar standar minimal itu. Hanya saja, dengan standar minimal kitab tentu pesantren akan terpicu dengan standar ilmu yang sebaiknya diajarkan di suatu pesantren sehingga kualitas keilmuan ponpes turut terangkat.

Menurut Kamaruddin, standardisasi pesantren bermuara pada terangkatnya kualitas ponpes, terutama dari segi keilmuan, tanpa merusak kekhasan lembaga pendidikan keagamaan Islam khas Indonesia. 

Selanjutnya, unsur yang perlu diperbaiki dalam standardisasi pesantren adalah penyetaraan kualitas pengasuh ponpes yang biasanya diperankan oleh kiai atau ulama.

“Umumnya para kiai memiliki tingkat keilmuan yang dalam dan memiliki pengetahuan luas. Akan tetapi, dari segi pendidikan formal mereka belum memiliki gelar akademik hitam. Maka dari itu, perlu penyetaraan pengasuh pondok pesantren termasuk para pengajarnya agar memiliki sertifikat atau ijazah formal,” jelasnya.

Dia berharap agar pengasuh dan pengajar di pesantren bisa mendapatkan nilai lebih lewat pendidikan formal sehingga pesantren juga bisa terangkat kualitas keilmuannya.

"Nanti bisa disetarakan dengan apa itu nanti kita buat aturannya, instrumen-instrumennya supaya bisa menjadi standar minimal pondok pesantren yang demikian," kata Kamaruddin. (nat/dbs/foto:rakyatjakarta) 

 


Back to Top