Pamerkan Istiwa’ain, UIN Walisongo Semarang Fasilitasi Pengunjung IIEE Belajar Ilmu Falak

gomuslim.co.id- Gelaran Pameran Pendidikan Islam Internasional terbesar atau International Islamic Education Expo (IIEE) 2017 resmi dibuka oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) pada Selasa (21/11/2017). Kegiatan pameran akan berlangsung mulai 22 sampai 24 November 2017 di Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang Selatan.

Dalam pameran ini terdapat berbagai lembaga pendidikan Islam khas Indonesia yang memiliki keunggulan, salah satunya Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yang unggul di bidang ilmu falak.

Salah satu yang mencuri perhatian pengunjung pameran yakni adanya alat teleskop yang digunakan untuk memantau hilal dan theodolite yang digunakan untuk pengukuran arah kiblat di booth UIN Walisongo. Serta yang menarik adalah praktik belajar ilmu falak dalam 2 menit.

“Ilmu Falak bisa membaca karakter seseorang dengan tanggal lahir, tapi bukan ramalan. Ini ada ilmunya yang bisa dipelajari dan ada software yang digunakan untuk membaca karakter seseorang. Namun tidak boleh dipercayai 100 persen,” ujar salah satu praktisi Ilmu Falak UIN Walisongo, Riza saat ditemui gomuslim.

Riza menerangkan pada dasarnya ilmu falak berfungsi sebagai penyatu umat Islam untuk penetapan awal bulan-bulan besar, seperti hijriah, syawal, ramadhan, dan zulhijah.

“Ilmu falak bersikukuh untuk menyatukan semua perbedaan yang ada di Indonesia,” kata dia.

Selain itu ilmu falak juga dipergunakan untuk memantau terjadinya gerhana, mengetahui kebesaran Allah SWT melalui fenomena alam, dan sebagai pengukur arah kiblat. Dalam boothnya, UIN Walisongo juga memamerkan alat pengukur arah kiblat Istiwa’ain karya Dosen Jurusan Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo, Drs. H. Selamet Hambali.

Istimewanya, alat ini dapat menentukan arah kiblat selain sinar matahari, namun bisa digunakan pada keadaan malam dengan bantuan sinar bulan. Alat ini terdapat dua tongkat istiwa, yang pertama terdapat di tengah (utama) dan pinggir lingkaran. Fungsi tongkat yang di tengah sebagai titik pusat lingkaran dari alas Istiwaain, sedangkan tongkat di pinggir sebagai pembidik matahari yang ditandai dengan angka o awal dari deretan angka sejumlah 360 yang melingkar di pinggir alas Istiwa’ain sebagai lambang dari derajat-derajat lingkaran.

“Cara kerjanya, tambahkan satu helai benang yang terikat longgar pada tongkat  utama dan digerak gerakkan untuk diarahkan ke azimuth Kiblat,” terang Riza.

Sedangkan untuk tingkat keakurasian, Istiwa’ain sudah pernah diuji coba untuk mengukur arah kiblat Masjid Agung Jawa Tengah yang hasilnya sama persis dengan hasil pengukuran alat theodolite.

“Untuk kelemahannya sendiri, Istiwa’ain tidak bisa digunakan jika cuaca mendung. Karena acuannya memakai cahaya matahari atau bulan,” pungkas Riza. (nat/foto:nat)

 


Back to Top