Belajar PAI Jadi Lebih Menyenangkan dengan Metode ‘ISRA’

gomuslim.co.id- Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (PAIS) terus berupaya untuk merealisasikan Kurikulum 2013 di semua elemen lembaga pendidikan di Indonesia. Dalam hal ini PAUD, SD, SMP, SMA dan SMK yang terkait Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI dan BP) berbasis Islam Rahmatan lil ‘Alamin atau “ISRA”.

Pada gelaran International Islamic Education Expo (IIEE) 2017, Sekolah Menengah Atas (SMA) 97 Jakarta memperkenalkan sistem pembelajaran ISRA, melalui boothnya, hasil karya siswa dalam penerapan metode ini menarik perhatian pengunjung untuk bertanya lebih dalam mengenai ISRA.

Guru Pendidikan Agama Islam SMK N 1 Saptosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, Nur Wastuti Setyawati menjelaskan penerapan kurikulum berbasis ISRA merujuk pada perubahan paradigma peserta didik agar dapat memahami Islam dari pelajaran PAI di sekolah yang menerapkan nilai toleransi, kerjasama, dan perdamaian.

Melalui nilai moral tersebut disusunlah kurikulum pelajaran PAI yang meliputi diskusi, penyusunan RPP, laporan hasil evaluasi dan praktek. Dalam penerapan metode ini pembelajaran berpusat pada peserta didik atau student center learning. Guru cukup memberikan pengantar dan arahan melalui kegiatan literasi, kemudian siswa yang akan mengupas topik tersebut secara berkelompok.

“Sesuai dengan nawacita Bapak Presiden Jokowi di bidang pendidikan adalah pendidikan karakter. Di mana siswa diberikan kebebasan dalam membaca segala sumber literasi dan membuat karya buah pemikiran yang dilakukan melalui diskusi antar kelompok,” papar Nur saat ditemui gomuslim dalam pameran IEE, Rabu (22/11/2017).

Pada saat mereka berkelompok, lanjut Nur, maka nilai-nilai ISRA terbentuk dan diimplementasikan langsung ke peserta didik. “Mereka akan lebih menghargai perbedaan pandangan, pemikiran dan sikap,” kata dia.

Penerapan metode ISRA mulai diperkenalkan 2013, sejalan dengan perubahan kurikulum kurtilas. Pada awalnya Direktorat PAIS memberangkatkan guru-guru pilihan untuk shortcourse ke Universitas Oxford, Inggris untuk belajar mengenai proses pembelajaran yang diterapkan di sana.

Dikatakan Nur, karakter orang-orang di Inggris mencerminkan budaya Muslim, salah satunya budaya mengantri yang kontras mencerminkan ajaran Islam untuk saling menghargai.

“Ruhnya tetap Islam namu dikolaborasikan dengan nilai-nilai positif dari pembelajaran di Oxford,” ujar Nur.

Kemudian usai pembelajaran, para alumni Oxford kembali mengimplementasikan melalui diklat serta membuat modul pembelajaran ISRA untuk diterapkan di sekolah Indonesia.

Dengan begitu, diharapkan melalui sistem pembelajaran ISRA peserta didik akan membentuk sikap yang mencerminkan Islam Rahmatan Lil’Alamin (agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam) termasuk hewan, tumbuhan, dan jin. Tentunya kepada sesama manusia.

Nur berpendapat jika sistem pembelajaran ini sering berulang maka akan membentuk kebiasaan, ketika terulang dengan sendirinya akan membentuk pola pikir dan karakter peserta didik yang mencerminkan nilai-nilai ISRA.

“Dengan adanya metode ini performa guru agama Islam atau PAI yang dulu dianggap  konvensional  saat ini tidak kalah dengan guru-guru pada umumnya. Siswa jadi lebih antusias karena memancing kreatifitas dan membuat pelajaran PAI jadi lebih menyenangkan,” tutur Nur. (nat/foto:nat)

 


Back to Top