Jeddah Jadi Tuan Rumah Festival Film Asia Tahun Ini

gomuslim.co.id-  Festival Film Asia ACRI ke-11 yang merayakan bioskop dan budaya Asia dimulai dengan pemutaran film Indonesia yang populer di kediaman Konsul Jenderal RI pada Senin, (22/01/2018) malam.

Asian Consuls General Club (ACGC) yang mengorganisir pemutaran film untuk publik ini menghadirkan berbagai genre film dari delapan negara Asia selama festival berlangsung. Festival yang berlangsung di Jeddah ini akan berakhir pada tanggal 11 Februari 2018 mendatang.

Festival tahunan ini pertama diluncurkan lebih dari satu dekade yang lalu, namun tahun ini "membawa signifikansi, karena bioskop akan dibuka kembali di Kerajaan", kata Konsul Jenderal RI Mohamad Hery Saripudin, saat berbicara dengan diplomat dan masyarakat setempat selama upacara pembukaan .

Katanya, ini adalah kemajuan yang dianggap sangat penting bagi pertukaran budaya dan ini akan meningkatkan pemahaman antara masyarakat dan bangsa. Khususnya bagi warga Arab Saudi untuk mengenal budaya dari berbagai belahan dunia.

Konsulat Jenderal Republik Korea adalah Misi Koordinasi ACGC tahun ini dari festival film, yang menyajikan serangkaian judul film yang memecahkan rekor dan yanng dari Indonesia, China, Malaysia, Pakistan, India, Korea, Bangladesh dan Jepang.

"Sebagai negara yang diundang untuk merayakan budaya, tradisi dan keragaman Asia di bagian barat Kerajaan, saya merasa bangga. Festival Film Asia telah menjadi platform unik untuk pertukaran budaya antara Arab Saudi dan negara-negara Asia," kata Konsul Jenderal Korea di Jeddah Youn Ho Kang, seperti dilansir dari publikasi SaudiGazette, Kamis, (25/01/2018).

Ia juga berharap Festival Film Asia akan memberikan kesempatan yang sangat baik untuk mengenalkan keragaman budaya Asia, dan juga kesamaan mereka dengan budaya Arab, kepada saudara-saudara dan penonton di Jeddah.

Adapun pemutaran film pembuka di festival ini adalah film dari Indonesia yang berjudul  Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang disutradarai oleh Sunil Soraya pada tahun 2013. Film ini menceritakan sebuah kisah tentang konflik cinta dan budaya di masyarakat Indonesia selama penjajahan Belanda di tahun 1930an. (fau/saudigazette/dbs)


Back to Top