Film Tentang Keluarga Muslim Ini Sabet Penghargaan di Festival Sinema Australia-Indonesia 2018

gomuslim.co.id- Pada gelaran Festival Sinema Australia-Indonesia (FSAI) 2018, Film Ali’s Wedding menjadi sajian utama festival yang berlangsung pada 25 sampai 28 Januari 2018. Film ini menampilkan wajah Australia Modern yang ditampilkan dalam potret keragaman latar belakang masyarakat.

Berkisah tentang keluarga imigran Muslim asal Irak di Australia dengan menampilkan sosok Ali, ia adalah seorang pemuda yang terpaksa menjalani perjodohan yang telah dirancang orang tuanya.

Namun, ayah Ali adalah seorang ulama di komunitas Muslim setempat, sesuatu yang membuatnya segan menolak perjodohan.

Ali dan keluarganya hijrah ke Australia saat ia masih kanak-kanak. Sejak saat itulah Ali diharapkan untuk menjadi seorang dokter. Pergulatan batin Ali sebagai anak ulama terpandang dan keinginan hidupnya yang dianggap tak biasa di kalangan keluarga imigran Irak menjadi alur Ali’s Wedding.

Film besutan sutradara Jeffrey Walker ini berhasil meraih penghargaan Australian Academy of Cinema and Television Arts Awards 2017.

Sebagai negara yang menerima imigran dari berbagai negara, wajah Australia modern diwarnai oleh keluarga dengan latar belakang seperti Ali.

Kuasa Usaha Australia di Jakarta, Allaster Cox mengatakan pihaknya ingin menampilkan keanekaragaman Australia modern saat ini. Kalau dulu Australia dilekatkan dengan budaya Eropa, Australia saat ini adalah orang yang berasal dari seluruh dunia.

Alis Wedding adalah satu dari 7 film Australia yang diputar dalam FSAI 2018. Selain film yang dibintangi dan ditulis oleh Osama Sami itu, Dance Academy, Killing Ground, Otherlife, Red Dog: True Blue, Rip Tide, dan Soul Bunker adalah enam film Australia lainnya yang ditayangkan.

"Mudah-mudahan film-film yang ditayangkan menampilkan Australia modern yang beraneka ragam. Misalnya seperti film Ali's Wedding yang menampilkan budaya Muslim," ujar Cox.

Dia menambahkan kota-kota besar seperti Sydney dan Melburne, budayanya sudah campur dari berbagai tempat.

FSAI 2018 juga menampilkan karya-karya Sinema dari Indonesia. Ada empat film yang diputar, mereka adalah Marlina The Murderer in Four Acts, Melawan Takdir, Melbourne Rewind, dan Nunggu Teka.

FSAI tahun ini diadakan serentak di 4 kota besar Indonesia, yakni Jakarta, Surabaya, Makassar dan Denpasar. Selain menampilkan film-film unggulan dari dua negara, festival ini juga mengadakan kompetisi film pendek untuk sineas muda Indonesia. Tahun ini ada 6 finalis film pendek terpilih yang akan ditentukan pemenangnya di akhir festival.

“Saya terus terang penasaran dengan film-film yang sudah jadi finalis. Kira-kira mereka menceritakan tentang apa dan bagaimana eksekusinya,” ujar Kamila Andini, salah satu juri kompetisi film pendek yang ditunjuk menjadi Sahabat (Duta FSAI).

Kamila, yang juga alumni Australia, pernah menjadi juri kompetisi film pendek FSAI sebelumnya. Bahkan, tahun lalu, FSAI menghadirkan film nominasi Oscars dan Golden Globes, Lion, sebuah kisah nyata tentang Saroo Brierley, anak India yang diadopsi oleh keluarga asal Tasmania. (nat/abc/dbs/foto:liputan6)


Back to Top