#KabarHaji

Lebih Intensif, Begini Prosedur Layanan Petugas Bimbingan Ibadah Haji Jemaah Indonesia

gomuslim.co.id- Bimbingan merupakan salah satu hal penting bagi jemaah haji. Hal ini dilakukan agar jemaah dapat lebih memahami tentang makna dan tujuan utama melaksanakan rukun Islam kelima di Tanah Suci.

Setiap tahun, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyelenggarakan bimbingan ibadah untuk jemaah. Berkaca dari tahun sebelumnya, jumlah petugas bimbingan ibadah yang hanya empat orang membuat petugas kewalahan karena mereka mengelilingi hotel jemaah setiap hari. Waktu dan tenaga kala itu tak mencukupi untuk memberikan bimbingan ibadah.

Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daerah Kerja Makkah Ansor Sanusi mengatakan program bimbingan ibadah terhadap jemaah memang harus lebih diperkuat. Hal demikian mengingat antusias jemaah yang melontarkan berbagai permasalahan haji cukup terlihat.

Bahkan, tahun lalu jemaah meminta penjadwalan ulang bimbingan karena banyak dari mereka tidak dapat bertanya tentang ibadah haji. Karena keterbatasan tenaga, permintaan mereka tak semuanya dapat diwujudkan.

Mulai tahun ini, jumlah konsultan ibadah ditambah. Mereka disebar ke 12 sektor yang ada di Makkah. “Alhamdulillah, petugas bimbingan ibadah sekarang lebih banyak,” ujarnya, Selasa (31/7/2018).

Petugas membuat jadwal kunjungan dan menyambangi hotel-hotel jemaah. Mereka memberikan bimbingan ibadah, menyegarkan pemahaman mereka tentang haji dan membuka dialog.

Konsultan ibadah di kantor daerah kerja (Daker) juga ada. Setiap hari mereka menyambangi hotel. Jemaah kemudian berkumpul di mushala atau ruang makan. Bimbingan ibadah berlangsung di sana.

Jemaah sudah mendapatkan materi manasik di kampung halaman. Jemaah dari Pulau Jawa misalkan, mendapatkan manasik sebanyak delapan kali. Enam di antaranya berlangsung di kecamatan.

Sisanya di kabupaten/kota. Sedangkan jemaah dari luar Pulau Jawa mendapatkan 10 kali manasik. Delapan di kecamatan. Dua lainnya di kabupaten/kota.

Walaupun demikian, Ansor menjelaskan, jemaah tetap ingin mendapatkan materi yang sama. Sebab, apa yang dialami ketika manasik dengan praktik sebenarnya di Tanah Suci berbeda.

Tempat umrah misalkan, yang sebenarnya di Masjid al-Haram sangat luas. Sementara miniatur Ka’bah di daerah asal mereka dinilai belum menggambarkan situasi yang sesungguhnya.

Selain ibadah, jemaah juga mendapatkan materi tentang kesehatan, perlindungan jemaah, dan lainnya. Mereka diarahkan untuk dapat lebih berhati-hati selama berada di Tanah Suci yang situasinya jauh berbeda.

Selain harus menyesuaikan diri dengan iklim, mereka juga harus memahami kultur masyarakat setempat. “Jadi materi bimbingan yang kita sampaikan komprehensif, mencakup berbagai hal,” kata Ansor.

Para peserta manasik berasal dari berbagai pihak. Yang paling utama adalah petugas kloter, ketua rombongan, dan ketua regu. Dari merekalah materi bimbingan ibadah disebarkan lagi kepada jemaah sehingga memahami bagaimana melaksanakan ibadah haji dengan benar. (njs/ihram/foto:ppih)


Back to Top