Ini Tol Perdana dengan Sindikasi Bank Syariah di Indonesia 

gomuslim.co.id- Perbankan syariah kini mulai menggarap pembiayaan di sektor properti. Salah satu yang terbesar adalah Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II (Elevated) yang dikelola PT Jamarga Jalanlayang Cikampek (JJC). Proyek dengan dana investasi senilai Rp 11,363 triliun itu berasal dari kucuran sindikasi bank syariah dan konvensional.

Komposisinya, Rp 8,9 triliun dari sejumlah bank konvensional, dan Rp 2,4 triliun dari perbankan syariah. Sementara 30 persen sisa kebutuhan dana diperuhi ekuitas perusahaan.

Bertindak sebagai Joint Mandated Lead Arrangers and Bookrunners (JMLAB) adalah PT Bank Mandiri (Persero), Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk, PT Bank CIMB Niaga, Tbk, dan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero).

Fasilitas pembiayaan konvensional diberikan oleh PT Bank Mandiri (Persero), Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk, PT Bank CIMB Niaga, Tbk, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk, PT Bank DKI, dan PT Indonesia Infrastructure Finance.

Sedangkan fasilitas pembiayaan syariah diberikan oleh PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank BNI Syariah, PT Bank BRISyariah, Tbk, PT Bank BCA Syariah, PT Bank CIMB Niaga, Tbk-Unit Usaha Syariah, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)-Unit Usaha Syariah, dan PT Bank Maybank Indonesia, Tbk-Unit Usaha Syariah.

Penandatanganan perjanjian pinjaman sindikasi untuk membiayai pembangunan proyek sepanjang 38,64 kilometer dilakukan pada Selasa (31/7/3018). Direktur Utama PT JJC Djoko Dwiyono mengatakan sangat menghargai dukungan perbankan konvensional dan syariah dalam membiayai proyek tol yang dimulai dari Cikunir hingga Karawang Barat.

"Untuk pertama kalinya proyek jalan tol yang dibiayai lembaga perbankan yang bersifat syariah, sehingga proyek ini lebih syar'i," ujar Djoko.

Djoko menambahkan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) ini dilakukan pada 5 Desember 2016 dengan masa konsesi 45 tahun. Kebutuhan investasi untuk membiayai proyek tol ini senilai Rp 16,233 triliun yang didanai sebesar 70 persen pinjaman, dan 30 persen ekuitas perusahaan.

Kepala Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna menuturkan, pembiayaan sindikasi untuk Proyek Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II (Elevated) merupakan rekor pembiayaan terbesar kategori jalan tol. Selain itu, pembiayaan yang memadukan antara lembaga keuangan dan perbankan baik konvensional dan syariah terlaksana pertama di proyek tol.

"Banyak sekali terobosan dan inovasi yang dilakukan di proyek jalan tol ini. Baik dari sisi konstruksi dengan teknologi Sosrobahu, dan dari sisi pembiayaan memiliki nilai terbesar untuk proyek jalan tol. Ini menjadi contoh yang baik untuk pembangunan infrastruktur di Indonesiam" tutur Herry.

Ia menyebut kolaborasi perbankan konvensional dan syariah merupakan terobosan di bidang pembiayaan untuk mendukung kelancaran pembangunan jalan tol. "Sebagai perbandingan dulu Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) dibiayai pinjaman Rp 8,8 triliun dari 20 bank. Sekarang makin sedikit banknya 16 bank tapi nilainya makin tinggi Rp 11,363 triliun," ujar Herry.

Sementara itu, Direktur Perbankan Korporasi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Royke Tumilaar mewakili 16 bank konvensional dan syariah menambahkan, kolaborasi kedua jenis bank ini sangat bermanfaat. Terutama untuk infrastruktur. "Kolaborasi ini merupakan momentum yang baik untuk memicu pertumbuhan perekonomian yang lebih tinggi," kata Royke.

PT JJC merupakan perusahaan konsorsium antara PT Jasa Marga (Persero) Tbk. dan PT Ranggi Sugiron Perkasa (RSP). Jasa Marga memiliki saham mayoritas sebesar 80 persen. Proyek Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek dirancang sepanjang 36,40 kilometer membentang dari Ruas Cikunir hingga Karawang Barat (Sta 9+500 s.d. Sta 47+500).

Memasuki akhir Juli 2018, progres konstruksi jalan tol ini telah mencapai 40,22 persen. Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek diproyesikan beroperasi penuh pada Maret 2019. (njs/kompas/wartakota/foto:bisnis)

 

 


Back to Top