Jadikan Subuh Seramai Jumat, Ini Rahasia Sukses Masjid Jogokariyan di Jogja

gomuslim.co.id- Masjid Jogokariyan di Yogyakarta, Jawa Tengah meraih penghargaan dari Gerakan Indonesia Beradab (GIB) mewakili institusi sosial dengan pengaruh kepemimpinan dan kaderisasi sosial. GIB Award sendiri digelar untuk kedua kalinya dengan mengusung tema besar Kepemimpinan Beradab. Masjid Jogokariyan, menjadi satu dari enam penerima penghargaan dari GIB Award tahun ini.

Ada almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX mewakili tokoh kepemimpinan dengan pengaruh sosial-budaya, dan Prof Dr BJ Habibie mewakili tokoh kepemimpinan dengan pengaruh ilmu pengetahuan, teknologi dan politik. Selain itu, ada KH Dr Sholahuddin Wahid (Gus Solah) mewakili tokoh kepemimpinan dengan pengaruh sosial-keagamaan, Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Prof Dr Euis Sunarti.

Dalam hal ini, ACT wakili organisasi nonprofit penghimpun dan penyalur dana sosial bagi keberlangsungan keberadaban manusia. Euis wakili tokoh yang secara akademik, institusional dan moral konsisten perjuangkan ketahanan keluarga sebagai inti peradaban.

Humas Takmir Masjid Jogokariyan, Ustadz Gita Welly Ariadi mengatakan, para pengelola sebenarnya tidak berharap dapat penghargaan. Sebab, semua hanya menjalankan tugasnya masing-masing.

“Segenap pengurus Masjid Jogokariyan mengucapkan terima kasih, atas apresiasi yang telah diberikan,” kata dia.

Welly menilai salah satu kunci sukses Masjid Jogokariyan tidak lain dalam menarik jemaah. Pelayanan maksimal tentu menjadi salah satu ketertarikan jemaah beribadah maupun menitipkan amanah-amanah kepada Masjid Jogokariyan.

“Saya rasa itu semua merupakan proses pembelajaran yang terus dilakukan pengurus. Kami bersyukur jika dalam proses pembelajaran tersebut, ternyat sudah ada manfaat-manfaat yang bia diambil jemaah-jemaah. Termasuk, takmir-takmir masjid lain yang kerap berkunjung ke Masjid Jogokariyan,” papar Welly.

Adapun, kiat yang dilakukan, pertama, tingkat kemakmuran masjid dihitung dari jumlah jemaah, bagaimana caranya menjadikan masjid ramai jemaahnya, tolak ukur, sebisa mungkin sholat Subuh menyamai sholat Jumat.

Kedua, lanjut Welly, segenap pengurus berusaha mengembalikan fungsi masjid tidak sekadar tempat sholat lima waktu. Tapi, sebagai pusat seluruh kegiatan umat Islam yang ada di sekitar Masjid Jogokariyan.

“Masjid Jogokariyan difungsikan pula sebagai solusi masyarakat yang ada di sekitar, untuk memecahkan masalah-masalah yang ada. Karena, pada dasarnya, peradaban masjid dan peradaban pasar akan selalu bersaing,” tambah dia.

Untuk itu, Masjid Jogokariyan muncul di tengah-tengah dominasi peradaban pasar yang membelenggu seperti materialisme. Masjid Jogokariyan bertekad, mengembalikan peradaban masjid yang pernah dibangun Rasulullah SAW.

Welly berharap agar masjid dapat kembali saat peradaban masa lalu, di mana masjid sebagai solusi permasalahan-permasalahan di kehidupan umat. Sehingga Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta itu menjadikan masjid solusi permasalahan seluruh dunia. (nat/republika/dbs/foto:brilio)