Ini Imbauan Kementan Terkait Hewan Kurban Berstandar Halal 

gomuslim.co.id- Kementerian Pertanian (Kementan) RI memperkirakan jumlah hewan kurban tahun ini mencapai 1.504.588 ekor. Jumlah ini meningkat 5 persen dari tahun 2017. 

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dalam rilis resminya mengatakan peningkatan ini mesti dibarengi dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya jaminanan kualitas hewan kurban. Mulai dari kesehatan hewan, keamanan, kelayakan dan higienisitas daging kurban juga mesti ikut meningkat.

”Penyediaan daging kurban yang sehat itu tanggung jawab bersama. Kesehatan hewan hal penting yang harus diperhatikan. Kami menghimbau seluruh masyarakat agar membeli daging kurban yang memenuhi standar kesehatan,” kata Amran.

Pemerintah melalui Kementan berinisiatif untuk membuat standarisasi hewan kurban dengan prinsip Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten Kota, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan pembinaan dan pengawasan teknis pemotongan hewan kurban sebagai upaya menghadirkan ternak terbaik berstandar ASUH bagi masyarakat Indonesia.

Fokus utama Kementan, ujar Amran, selain menjamin hewan kurban bebas penyakit zoonosis yang berpotensi menular dari hewan ke manusia, juga memastikan pelaksanaan penyembelihan kurban sesuai syariah dan distribusi daging kurban mesti higienis.

"Kami sudah perintahkan kepada seluruh dokter hewan dan petugas kesehatan yang bertugas untuk terus melakukan pengawasan hewan kurban, baik dari sisi kesehatan, proses penyembelihan hingga distribusinya,” paparnya.

Kementan terus melakukan sosialiasi terkait program penataan pelaksanaan kurban nasional sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 114/Permentan/PD.410/9/2014 tentang Pemotongan Hewan Kurban. Peraturan itu juga mengatur persyaratan minimal yang harus dipenuhi.

“Mulai dari tempat penjualan hewan kurban, transportasi, tempat penampungan sementara, persyaratan lokasi yang akan dijadikan tempat pemotongan, tatacara penyembelihan, hingga distribusi daging sesuai aspek teknis dan Syariah,” jelasnya.

Dalam penerapannya di lapangan, tambah Amran, Kementan terus melakukan pembinaan dan pengawasan penyembelihan hewan, di antaranya dengan memfasilitasi pembangunan pilot project sarana pemotongan hewan kurban.

“Sejak 2016, pilot project ini sudah dilakukan di lima wilayah DKI Jakarta. Di antaranya, di Sekolah Al-Azhar Sentra Primer Jakarta Timur dan 12 lokasi lain di 12 Provinsi di Indonesia melalui alokasi dana APBN Tugas Pembantuan,” jelasnya.

Selain menyampaikan imbauan kepada seluruh dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di seluruh provinsi, kabupaten, kota, tiap tahun Kementan juga menerjunkan Tim Terpadu Pemantauan Hewan Kurban.

“Tim ini berkoordinasi dengan dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di daerah tugas dan mengawasi pelaksanaan teknis yang telah dilakukan Pemerintah Daerah. Tim ini pun wajib melaporkan hasil serta mendokumentasikan proses pemantauan kurban,” urainya.

Tahun ini, Kementan mengerahkan tim yang terdiri dari 2.698 petugas dari pusat hingga daerah yang terdiri dari berbagai unsur, yaitu, pemerintah, organisasi profesi, mahasiswa serta petugas Kementerian Agama.

“Untuk memaksimalkan hasil, Kementan juga mengajak berbagai pihak untuk ikut terlibat. Salah satunya dengan menggandeng Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Indonesia (ASKESMAVETI) untuk melaksanakan bimbingan teknis penataan kurban untuk Tim Pemantau Hewan Kurban,” imbuhnya.

Selain itu, Kementan juga membuat video edukasi dan media sosialisasi lainnya untuk bekal masyarakat dalam advokasi penanganan hewan kurban, penyembelihan halal, dan distribusi daging kurban yang higienis, serta pedoman memperlakukan hewan kurban. (kementan/dbs)