Seminar Samara: Ini Resep Keluarga Bahagia dari Ustadz Salim A. Fillah

gomuslim.co.id- Komunitas Remaja Islam Rabbani (KARIR) menggelar seminar SAMARA bertajuk “Rumah Tangga Yang Dirindukan: Sucikan Cinta Bahagia Bersamanya”, Sabtu (18/08/2018). Kegiatan yang digelar di Masjid Darul Hikmah YAPIDH, Jatiluhur, Jatiasih, Bekasi ini menghadirkan dai sekaligus penulis buku Islami, Ustadz Salim A Fillah.

Puluhan pemuda-pemudi dan pasangan suami isteri tampak serius dan antusias menyimak pemaparan narasumber yang menjelaskan tentang pernikahan. Selain pemaparan materi, seminar juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk Tanya jawab.  

Dalam pemaparannya, penulis buku Agar Bidadari Cemburu Padami ini menjelaskan bahwa orientasi menikah itu adalah berkah. Makanya doa untuk yang menikah adalah ‘barakallahu laka, wa Baraka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khayr’.

“Artinya, mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan. Doa ini supaya pasangan yang menikah semakin lama semakin kokoh dalam ikatan pernikahannya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ustadz Salim A. Fillah memaparkan bahwa suami sebagai kepala keluarga mempunyai tanggungjawab yang berat. Salah satu yang terberat adalah adalah menjaga dirinya keluarganya dari api neraka. Dalam Alquran, suami itu disebutkan sebagai qowam yaitu yang menegakan struktur dalam rumah tangga.

“Di sinilah perlunya sokongan dan dukungan isteri untuk membantu suami dalam tugas-tugasnya. Dukungan isteri sangat mutlak diperlukan oleh suaminya untuk melaksanakan fungsi ini,” jelasnya.

Menurutnya, dalam menjalankan misi besar keluarga supaya terjaga dari api neraka ini, suami dan isteri perlu bermusyawarah sampai pada hal-hal kecil secara detail. Misalnya, isteri menawarkan kepada suami tentang apa saja yang bisa dia bantu. Isteri yang menawarkan seperti itu adalah sesuatu yang membahagiakan bagi suami.

“Kemudian, diberi khidmah dan pelayanan yang baik. Ini saya selalu menekankan untuk dikomunikasikan dengan pasangan. Kadang-kadang kita suka berprasangka, ‘kalau saya begini harusnya dia begitu’. Padahal ini tidak tepat. Kalau perlu tanyakan kepada suami supaya lebih jelas,” paparnya.

Penulis Buku Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan ini mencontohkan kisah isteri Abu Sulaiman Addarani yang bertanya di hari pertama pernikahan. “Kalau kamu sedang marah apa yang harus aku lakukan, masakan apa yang menjadi kesukaanmu, seperti apa yang kemudian aku harus lakukan ketika engkau sedang tidak di rumah, apa saja yang boleh kulakukan dan tidak boleh kulakukan ketika engkau sedang meninggalkanku di rumah sendiri, tamu seperti apa yang boleh kuterima dengan yang tidak boleh diterima, dan sebagainya. Ini dikomunikasikan dengan suami untuk menunjukan khidmah kita kepadanya,” jelasnya.

Selanjutnya, memberikan kejutan-kejutan kepada suami dalam hal yang ma’ruf adalah satu hal yang baik. “Dukung tugas-tugasnya sekaligus memberi ruang kepadanya untuk punya kemerdekaan, punya hobi, jadwalkan bolehnya dia pergi untuk hobinya, berikan keluangan, berikan ruang ketika dia punya masalah untuk menyendiri dan berkontemplasi,” ungkapnya.

Menurut Ustadz Salim, terkadang dalam pernikahan itu bukan kurangnya cinta tapi kurangnya ilmu tentang ilmu komunikasi. “Laki-laki dan perempuan itu beda. Baik dari cara berpikirnya maupun hal lainnya. Jangan mencintai laki-laki dengan cara mencintai perempuan. Dan sebaliknya, jangan mencintai perempuan dengan cara mencintai laki-laki. Pahami perbedaan-perbedaan ini agar tidak ada salah pemahaman,” tuturnya. (njs) 


Back to Top