#KabarHaji

Setelah Angin Kencang dan Hujan Deras Reda, Jemaah Bergerak Menuju Muzdalifah

gomuslim.co.id-  Setelah mengalami cuaca buruk angin kencang dan hujan deras, jamaah melanjutkan rangakaian ibadah haji. Secara bergelombang jamaah haji asal Indonesia mulai bergerak menuju Muzdalifah dari Padang Arafah untuk melaksanakan wajib haji menginap sebentar alias mabit.

Pada hari senin waktu setempat, bus traduddi kendaraan pengangkut kawasan Arafah, Muzdalifah dan Mina telah mengangkut para jemaah. Jamaah reguler yang berjumlah hampir 204 ribu diangkut secara bergelombang sampai semua berada di Muzdalifah.

Dikarenakan durasi mabit yang relatif sebentar saat dikawasan Muzdalifah, sehingga para jamaah tidak mendapatkan fasilitas seperti tenda. Durasi paling lama mulai selepas Maghrib hingga tengah malam waktu setempat.

Jamaah bergerak ke Mina setelah cukup untuk mabit. Jamaah bergerak menggunakan bus traduddi untuk beristirahat sebentar sebelum melakukan wajib haji melempar batu jumrah pada 10 Dzulhijah atau bertepatan dengan selasa (21/8).

Memperbanyak doa, mengambil kerikil untuk jumrah dan kegiatan lainnya adalah kegiatan ibadah jamaah di Muzdalifah.

Para imam madzhab sependapat bahwa mabit di Muzdalifah hukumnya wajib, kecuali bagi seseorang yang mendapat udzur, misalnya: bertugas melayani jamaah, sakit, merawat orang sakit, menjaga harta, dan lain-lain. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 198, yang artinya: “Setelah kamu meninggalkan Arafah maka berdzikirlah mengingat Allah di Masy’aril Haram.”

Berdasarkan keterangan hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) riwayat Jabir, sebagai berikut, “Rasulullah mendatangi Muzdalifah, lalu shalat Maghrib dan Isya dengan adzan sekali dan dua kali iqomat, dan tidak shalat (sunat) di antara keduanya. Kemudian berbaring (tidur) sampai terbit fajar: Lalu shalat Subuh setelah jelas waktu Subuh dengan sekali adzan dan sekali iqomat. Kemudian mengendarai Qaswaa sehingga sampai di Masy’aril Haram lalu menghadap kiblat, berdo’a, bertakbir, bertahlil dan membaca kalimat tauhid lalu terus bewukuf sampai terang benar. Lalu berangkat sebelum terbit matahari”

Saat di Jamarat, Jamaah akan melakukan Jumrah Aqabah dengan tujuh lemparan kerikil yang telah diambil di Muzdalifah. Disarankan agar jamaah membawa lebih dari tujuh batu, karena tujuh lemparan itu harus kena sasaran. (sat/antara/ibadahid/foto:daftarhajiumroh)


Back to Top