#KabarHaji

Jumlah Jemaah Dirawat Berkurang Drastis pada Hari Kedua Lempar Jumrah 

gomuslim.co.id- Rangkaian ibadah haji memasuki fase lempar jumrah yang dimulai sejak hari Selasa (21/08). Pada hari pertama, jumlah jemaah dirawat capai 200 orang dan meninggal 1 orang. Sementara pada Rabu (22/08) sore, jumlah jemaah sakit yang dirawat di Posko Kesehatan Haji Indonesia di Mina berkurang drastic. Jemaah yang dirawat hanya tujuh orang.   

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pun mengapresiasi petugas yang terus melayani jemaah. “Penurunan angka jemaah sakit ini tentu patut disyukuri bersama, dan saya memberikan apresiasi dan pengharagaan setinggi-tingginya kepada para petugas,” pujinya.

Lukman menegaskan pihaknya mengapresiasi petugas yang terus melayani jemaah. Dari petugas kesehatan sampai petugas Mobile Crisis Rescue (MCR) yang ada di jalan-jalan penghubung Jamarat dan perkemahan Mina. "Jemaah yang dirawat jauh lebih kecil, angkanya menurun dibanding tahun lalu pada saat yang bersamaan," sambungnya.

Menag juga sempat menengok jemaah sakit di Posko Kesehatan. Salah satunya, Yasorah binti Sawe, asal Makassar. “Ibu, mudah-mudahan cepat sembuh ya,” ucap Menag lembut. Setelah singgah di Posko Kesehatan, Menag lalu rehat sebentar. Maghrib menjelang, Menag pun menuju toilet dan ambil air wudhu.

Sebelumnya, anggota tim Pertolongan Pertama Pada Jamaah Haji (P3JH), dr Pradipta Suarsyaf menuturkan jemaah haji Indonesia banyak "tumbang" saat melakukan kegiatan melempar batu (jumrah) di Jamarat yang berbatasan dengan area Makkah. "Banyak jemaah tumbang karena kelelahan dan heat stroke," katanya.

Umumnya, jemaah bugar saat berangkat dari tenda, tetapi keletihan saat harus kembali ke tenda. Total jarak Mina-Jamarat pulang pergi adalah 4-6 kilometer dengan lintasan tergolong landai. Namun, jemaah mengalami kendala terkena cuaca panas dan paparan cahaya matahari langsung yang terik dengan suhu lebih dari 40 derajat celcius.

Pradipta yang dalam beberapa kesempatan mendampingi pasien terkendala kesehatan, mengatakan heat stroke mengancam jemaah Indonesia, sebab mereka harus berjalan jauh di bawah terik matahari.

Pada beberapa kasus, jemaah yang terkena heat stroke ditangani hingga cukup bugar untuk kembali ke tendanya di Mina. Dia menyarankan agar jemaah tidak memaksakan kehendak jika kondisi fisik tidak memungkinkan, apalagi sebelum berangkat sudah mengalami gejala demam, lemas, mual, muntah, dan pingsan. (njs/kemenag/foto:mi)

 


Back to Top