UNICEF: Pengungsi Anak-Anak Rohingya Tidak Miliki Pendidikan Layak

gomuslim.co.id- Di hadapan publik, PBB menegaskan bahwa anak- anak pengungsi Rohingya tidak memiliki pendidikan yang layak di kamp-kamp darurat di Bangladesh. Jika itu dibiarkan maka akan memicu “generasi yang hilang” di masa depan.  

PBB melalui UNICEF telah menyoroti hampir setengah jumlah anak dari sekitar 700 ribu pengungsi Rohingya. Karena desakan operasi militer pemerintah, mereka meninggalkan kampung halaman dinegara bagian Rakhine. Lebih dari 380.000 anak-anak di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh dalam bahaya, saat ini ratusan ribu anak-anak Rohingya masih di Myanmar dan terputus dari bantuan, seperti dilansir dari publikasi The Guardian, Senin (27/08/2018)

Juru bicara Unicef Alastair mengatakan Bangladesh melarang para pengungsi menerima pendidikan formal, karena pemerintah di sana khawatir populasi muslim Rohingya menjadi penduduk permanen.  Anak-anak berusia tiga higga empatbelas tahun diberikan pembelajaran informal pada awal krisis pengungsi. Tetapi remaja yang lebih tua merasa terasingkan dan putus asa, kata Lawson-Tancred.

Save the Children telah mengelola sekitar 100 pusat belajar untuk anak-anak pengungsi Rohingya di Bangladesh. Save the Children juga memberi perhatian atas proses repatriassi pengungsi yang telah disepakati Myanmar dan Bangladesh.

Kebanyakan pengungsi menyeberangi perbatasan selama empat bulan pertama operasi militer. Ini dimulai setelah gerilyawan Rohingya melancarkan serangan terhadap pasukan keamanan di Negara Bagian Perbatasan Rakhine pada 25 Agustus 2017.

Kekejaman terhadap warga sipil Rohingya sering kali dibantah oleh pejabat Myanmar. Hal terkait telah didokumentasikan oleh aktivis, termasuk kekarasan lainnya seperti pemerkosaan, pembunuhan dan pembakaran. Lebih dari 6.000 anak pada pekan ini terungkap oleh studi badan amal Save the Children, terpisah dari orang tua, di Cox’s Bazar, yang merupakan pusat kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh.

layanan dasar bagi anak-anak, seperti sekolah darurat, bimbingan konseling, dan akes literatur disediakan oleh beberapa lembaga amal. Tetapi para relawan mengakui hal itu tidak kunjung tuntas karena kamp pengungsi telah penuh sesak dengan beresiko banjir, tanah longsor, dan berbagai wabah penyakit. (sat/liputan6/unicef/dbs/foto:nu)


Back to Top