Bekraf Financial Club Dorong Permodalan untuk Fashion Muslim

gomuslim.co.id- Baru-baru ini, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) kembali menggelar Bekraf Financial Club (BFC). Tahun 2018 ini, BFC mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan sumber permodalan perbankan dan non-perbankan.

Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Bekraf, Mariaman Purba mengatakan BFC merupakan sharing session pelaku ekonomi kreatif ke perbankan. Tahun ini, Bekraf melebarkannya ke sumber pembiayaan non-perbankan.

“Bekraf Financial Club adalah bentuk sinergi Bekraf dengan pihak penyedia pembiayaan perbankan dan non-perbankan untuk permodalan ekonomi kreatif Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan pertemuan antara pelaku ekonomi kreatif dengan penyedia pembiayaan diharapkan bisa meningkatkan akses permodalan yang tepat untuk pelaku ekonomi kreatif.

“Perbankan dan non-perbankan yang hadir bisa mempelajari nature of business pelaku ekonomi kreatif,” ujarnya.

Bekraf Financial Club terbaru, katanya, mengangkat tema subsektor mode busana Muslim. Acara yang diadakan di Hotel Millenium, Jakarta ini (21/8), dihadiri dihadiri 50 perwakilan dari pihak perbankan dan penyedia modal non-perbankan serta beberapa pelaku ekonomi kreatif subsektor fashion Muslim.

“Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman mengenai subsektor fashion Muslim dan akses permodalan yang tepat. Pelaku ekonomi kreatif subsektor fashion Muslim mempresentasikan the nature of the business dari rantai nilai subsektor fashion muslim. Yaitu kreasi, produksi, dan pemasaran,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bekraf, Triawan Munaf menuturkan berdasarkan data Bekraf, sub-sektor fashion berkontribusi 56 persen total ekspor dari sektor ekonomi kreatif pada tahun 2016.

“Merujuk pada data ini, saya melihat ada potensi besar dari sisi pemasaran produk fashion di Tanah Air. Karena itu kami mengajak para bankers, pelaku industri keuangan non-bank serta regulator keuangan untuk bersama-sama memahami karakteristik bisnis fashion,” paparnya.

Triawan berharap industri keuangan dapat mencari skema pendanaan yang sesuai dengan kebutuhan permodalan para perancang desain serta para pelaku di rantai nilai bisnis fashion. 

Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo menambahkan, masyarakat di Timur Tengah mengenal apa yang disebut Jakarta Style. Yaitu, gaya berbusana muslim Jakarta. Hal ini bisa mendorong tumbuhkembangnya pelaku ekonomi kreatif subsektor fashion Muslim di Indonesia untuk menangkap peluang pasar tersebut.

“Dengan bantuan pembiayaan perbankan dan non-perbankan, pelaku ekonomi kreatif subsektor fashion Muslim diharapkan dapat mengembangkan bisnis mereka,” ulasnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik, subsektor fashion memberikan kontribusi terbesar kedua Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif 2016 yaitu 18,01 persen atau Rp 166 triliun. Fashion Muslim Indonesia berkembang sejalan dengan tren dunia dengan halal lifestyle.

Sebelumnya, Bekraf Financial Club diadakan di Malang (14/8) dengan menghadirkan pelaku ekonomi kreatif subsektor aplikasi yang dihadiri pula oleh 60 perbankan konvensional dan syariah serta sumber pembiayaan non-perbankan.

Untuk diketahui,  Bekraf adalah lembaga pemerintah non-kementerian yang bertanggungjawab di bidang ekonomi kreatif. Bekraf mempunyai tugas membantu Presiden RI dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif di bidang aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi dan radio. (bekraf/dbs/foto: gomuslim)

 

 


Back to Top