Targetkan 5000 Amil Zakat, Baznas Bentuk Lembaga Sertifikasi Profesi Amil

gomuslim.co.id- Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk amil. Baznas menjadi pionir uji kompetensi dan sertifikasi profesi amil zakat yang pertama kali dilakukan di dunia ini. 

Ketua LSP Baznas, Sarniti mengatakan badan ini nantinya bertugas untuk menguji standar kompetensi amil yang tugasnya mengumpulkan, penyimpanan, penjagaan, pencatatan, dan penyaluran atau distribusi zakat. Setelah proses pengujian, LSP akan memberikan penilaian kepada para calon amil.

“Layak atau tidak mereka menjadi amil zakat. Pengujian ini akan diberlakukan pada seluruh jajaran pengurus Baznas di Indonesia. Hal ini sebagai pengakuan atas kemampuan mereka sebagai amil,” paparnya.

Adapun, terkait standar penilaian kompetensi, lanjut Sarniti, akan disesuaikan dengan perangkat uji yang telah disusun oleh LSP dan para asesor yang berpengalaman di bidangnya.

“Kelengkapan portofolio akan menjadi salah satu pertimbangan untuk mengetahui sejauh mana pengalaman dan kemampuan calon amil tersebut,” jelasnya.

Uji kompentensi ini akan disasar pada tujuh lapisan kepengurusan amil Baznas di seluruh Indonesia, yaitu pada calon pimpinan pusat, kandidat pimpinan daerah, direktur serta manajer pengumpulan zakat, manajer pendistribusian dan pendayagunaan zakat, dan manajer staf pelaksana serta verifikator.

“Jadi, kami uji berdasarkan okupasi atau jabatan. Nah, sasaran pengujian ini bukan pada lembaga atau institusi, tetapi pada subjek calon amil berdasarkan jabatan tadi,” kata Sartini.

Untuk diketahui, subjek penilaian uji kompetensi ini merujuk pada tiga aspek. Pertama, kemampuan atau skill calon amil. Kedua, pengetahuan serta pemahaman mengenai zakat. Terakhir, perilaku (attitude). Terakhir,  terkait dengan etos kerja calon amil, termasuk sikap amanah dan kejujurannya.

Sarniti menuturkan uji kompetensi profesi amil ini telah dijalankan oleh pihaknya sejak 24 Agustus 2018 lalu. “Tes berikutnya akan dilaksanakan pada 24 Oktober mendatang,” katanya.

Hingga tahun depan, LSP Baznas menargetkan hingga tahun depan dapat mencapai 5000 amil yang disertifikasi. Untuk mencapai target itu, ia beserta tim sedang menyiapkan berbagai kebutuhan. Termasuk, sistem daring (online).

“Dengan sejumlah 34 kantor Baznas di tingkat provinsi dan 514 pos Baznas tingkat kabupaten kota, kami, di LSP, tengah mengembangkan sistem aplikasi melalui jaringan internet (online) untuk memudahkan proses pendaftaran agar bisa mencapai target,” jelas Sarniti.

Selain memudahkan mekanisme registrasi kepada calon amil dengan sistem online, pihaknya juga terus melakukan sosialisasi terkait uji kompetensi ini ke seluruh pos dan cabang Baznas di Indonesia.

Ia mengakui, dalam perjalanannya, tentu ada tantangan yang harus ia dan timnya hadapi, baik saat uji kompetensi dan setelah hal itu dilakukan. "Namun demikian, kami tetap optimis bisa mengatasinya sehingga standar penilaian kompetensi ini bisa berjalan dengan baik,” terangnya.

Uji kompetensi ini mendapat respons positif, baik di kalangan Baznas maupun dari masyarakat. Banyak permintaan dari masyarakat untuk secepatnya dilakukan uji kompetensi dan proses sertifikasi amil zakat ini.

“Mereka menilai uji kompetensi dan sertifikasi ini akan membawa dampak penilaian positif pula terhadap lembaga zakat maupun amilnya. Apalagi sistem sertifikasi profesi zakat ini baru dilakukan pertama kali di dunia dan Baznas-lah yang melakukannya,” ujar Sarniti.        

Ia berharap, setelah lulus uji kompetensi dan mendapat sertifikasi, para amil bisa menjaga kapabilitas, kompetensi, dan integritasnya dalam mengelola, mendayagunakan serta mendistribusikan zakat di wilayah atau lembaganya masing-masing. (fau/baznas/sharianews/dbs/foto: baznas)


Back to Top